Elektabilitas PSI Ternyata Hanya Nol Koma, Dinilai Bergaya Anak Muda Temperamental
Nasional

Hasil survei Litbang Kompas menunjukkan bahwa elektabilitas Partai Solidaritas Indonesia (PSI) hanya 0,9 persen.

WowKeren - Hasil survei Litbang Kompas yang dilakukan pada periode 22 Februari-5 Maret 2019 menunjukkan bahwa elektabilitas Partai Solidaritas Indonesia (PSI) hanya 0,9 persen. Tak hanya itu, survei tersebut juga menunjukkan bahwa PSI menjadi Parpol baru yang banyak mendapat penolakan dari masyarakat.

Menurut pengamat komunikasi politik dari Universitas Indonesia, Ari Junaedi, PSI diprediksi tidak lolos electoral threshold. Pasalnya, tutur Ari, PSI banyak melakukan blunder.


"PSI kurang santun dalam berpolitik," tutur Ari dilansir Republika, Kamis (21/3). "Serta tidak bisa melepaskan diri dari gaya anak muda yang temperamental."

Ari sendiri mengaku memiliki harapan besar kepada partai yang dipimpin Grace Natalie tersebut pada awalnya. Namun, Ari menilai PSI kerap mengeluarkan blunder yang tidak perlu di tengah jalan. Contohnya adalah penolakan Perda Syariah dan poligami yang dinilai merupakan isu sensitif.

"Pernyataan perda syariah dan poligami yang masuk dalam ranah filosofis keagamaan sebaiknya tidak disentuh PSI di awal kampanye," terang Ari. "Dengan cara seperti itu, PSI mengobarkan perang dengan kaum mayoritas."

Tak hanya itu, Ari juga menyebut bahwa PSI sering menyinggung partai lain, bahkan sesama anggota koalisi pendukung Joko Widodo. Seharusnya PSI tidak membuat permusuhan dengan partai-partai senior dan bermain di isu-isu milenial dulu saja. Pasalnya, "target pasar" PSI memang kalangan milenial atau pemilih pemula.

"Ini kan tidak, PSI membuka front pertempuran dengan partai-partai senior," ujar Ari. "Tidak peduli yang ada di dalam koalisi atau tidak, serta tidak menggarap intens pasar potensialnya."

Di sisi lain, pihak PSI juga telah buka suara terkait hasil survei yang menunjukkan penolakan masyarakat pada mereka. Menurut PSI, hal tersebut merupakan suatu kewajaran.

"Jadi kami mendapat resistensi dari para koruptor atau orang-orang yang selama ini hidup dalam suasana yang korup," kata Antoni dilansir dari Kompas, Kamis (21/3). "Justru angka (resistensi) itu menunjukkan posisi kami tampak bedanya kami dengan partai nasionalis yang lain."

You can share this post!

Related Posts
Loading...