Pemilih Jokowi Disebut Bermigrasi ke Prabowo, Peneliti LIPI Jelaskan 4 Alasannya
Twitter/KSPgoid
Nasional

Peneliti LIPI, Firman Noor, menjelaskan bahwa migrasi pemilih berpotensi terjadi di wilayah pemilih mengambang alias swing voters.

WowKeren - Elektabilitas paslon Capres-Cawapres nomor urut 01, Joko Widodo-Ma'ruf Amin, dinilai mengalami tren penurunan selama enam bulan terakhir. Kepala Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Firman Noor, menilai hal tersebut disebabkan oleh fenomena migrasi pemilih.

Menurut Firman, migrasi pemilih berpotensi terjadi di wilayah pemilih mengambang (swing voters). Firman menjelaskan potensi migrasi cukup besar terjadi di kalangan tersebut lantaran ada banyak ragam informasi yang mereka terima. Sehingga hal ini dapat menimbulkan suatu kebingungan.

"Namun demikian bukan tidak mungkin hal itu terjadi di wilayah yang sebenarnya sudah cukup mapan preferensi politiknya," jelas Firman dilansir Tempo, Selasa (26/3). "Potensi kebingungan itu juga semakin tinggi dengan adanya pemilu serentak, yang menyebabkan konsentrasi mereka menyimak program dan agenda politik terpecah."

Menurut Firman, migrasi politik secara umum mencerminkan adanya ketidakpuasan. Sehingga pemilih memutuskan untuk beralih karena pilihannya semula terasa percuma.

"Saat ini persoalan kesejahteraan, khususnya masalah daya beli masyarakat dan ketersediaan pekerjaan, menjadi hal yang berpotensi menyebabkan perubahan pilihan untuk tidak lagi mendukung inkumben," jelas Firman. "Iklim politik yang dirasa mengalami pemunduran kualitas demokrasi juga berpotensi menggerus dukungan."


Tak hanya itu, migrasi politik juga dapat dipengaruhi oleh faktor karakter kandidat. Citra paslon nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, dinilai mengalami peningkatan positif.

"Jika saat ini terdapat pergeseran positif bagi pasangan 02 ini sesungguhnya mengindikasikan meningkatnya citra positif di masyarakat," tutur Firman. "Sementara keberadaan Sandiaga tokoh muda yang santun, bersahaja, gaul, dengan prestasi bisnis yang lumayan banyak melengkapi citra positif pasangan ini."

Faktor lain adalah tentang mesin politik partai serta jaringan relawan dan elite pendukung. Relawan sendiri memiliki peran yang sangat penting untuk memperluas jangkauan pemilih. "Mesin politik yang bergerak secara efektif dan efisien tidak saja dapat membantu memberikan pemahaman kepada masyarakat dan juga dapat mengubah persepsi politik," ujar Firman.

Kemudian, faktor keempat adalah program yang realistis dan relevan terhadap masyarakat. Menuruti Firman, kubu petahana tampak ingin untuk melanjutkan hal yang sudah baik selama ini.

"Dapat dilihat dari beberapa kali debat capres dan cawapres," jelas Firman. "Bahwa ujung dari program-program itu selalu dikaitkan dengan upaya memperbaiki kondisi ekonomi bangsa ini."

Meski potensi migrasi pemilih ini dapat diprediksi, namun besaran angka migrasi tak dapat diperkirakan hingga 17 April 2019 mendatang. "Selain itu bukan tidak mungkin ada fenomena mudik, atau migrasi ke asal," pungkas Firman.

(wk/Bert)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait