Institut Pertanian Bogor bekerja sama dengan Kementerian Pertanian untuk membuat program regenerasi petani yang bertujuan untuk membentuk petani milenial.
- Zodiak Yanuarita
- Selasa, 12 November 2019 - 11:19 WIB
WowKeren - Meski zaman sudah berkembang dimana digitalisasi bisa ditemukan di hampir semua sektor kehidupan, namun ada satu profesi yang tak boleh dilupakan. Adalah petani, sebuah mata pencaharian yang boleh dibilang amat penting keberadaannya dari dulu hingga sekarang.
Berbicara mengenai profesi petani, tak lepas dari hal yang berkaitan dengan pangan. Oleh sebab itu, terlepas dari semaju apapun suatu peradaban petani akan tetap diperlukan.
Namun, apa jadinya jika jumlah penduduk yang bermata pencaharian sebagai petani semakin menurun. Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Arif Satria memperkirakan, jumlah petani di Indonesia akan mengalami krisis dalam kurun waktu 10 sampai 15 tahun ke depan.
Ia menyebut bahwa rata-rata petani di Indonesia memiliki usia 47 tahun. Jika penurunan terus terjadi maka tidak menutup kemungkinan Indonesia akan kekurangan yang namanya petani.
"Rata-rata petani di Indonesia sekarang berusia 47 tahun," kata Arif di Jakarta, Senin (11/11). "Kalau tidak diantisipasi, maka jumlah petani betul-betul akan terjadi krisis."
Untuk mencegah agar hal itu tidak terjadi, IPB bekerja sama dengan Kementerian Pertanian untuk membuat program regenerasi petani. Hal ini bertujuan untuk membentuk petani milenial. "Itu bisa memperkuat ketahanan pangan. Baik dari sisi hulu dan pelaku-pelaku usaha di lapangan," ujar Arif.
Arif melanjutkan bahwa saat ini, pihaknya sudah memiliki program untuk mencetak technopreneur serta sosiopreneur. Program tersebut diharapkan bisa membuat pemanfaatan hasil inovasi di lapangan semakin terjamin.
"Technopreneur berarti pelaku usaha, sementara sosiopreneur adalah orang orang yang memanfaatkan inovasi untuk pendampingan," lanjut Arif. "Apalagi di era 4.0 di mana teknologi berbasis artificial intelligence dan blockchain sudah luar biasa, jadi akan kita perkuat."
IPB dan Kementan akan berupaya untuk mengembangkan generasi petani. Untuk itu, akurasi data sangat penting untuk mengambil keputusan. "Kita akan terus gali, perkuat, khususnya dalam pengembangan generasi petani," jelas Arif.
(wk/zodi)