Reuters mengumumkan temuan jumlah pasien meninggal karena COVID-19 berbeda dari yang dirilis pemerintah. Data tersebut didapatkan dari 16 provinsi yang merangkum 3/4 jumlah populasi di Indonesia.
- Neressa Prahastiwi
- Selasa, 28 April 2020 - 14:24 WIB
WowKeren - Pada Senin (27/4), Pemerintah mengumumkan sebanyak 765 orang meninggal akibat virus Corona atau COVID-19. Namun menurut Reuters, sebenarnya ada lebih dari 2.200 jiwa di Indonesia melayang karena gejala akut Corona tetapi tidak dicatat sebagai korban penyakit ini. Salah satu faktornya ialah tingkat pengujian COVID-19 yang sangat rendah di negara terpadat keempat di dunia tersebut.
Data terbaru menunjukkan sebanyak 2.212 kematian Pasien Dalam Pengawasan (PDP) di 16 dari total 34 provinsi di Indonesia. Data ini dikumpulkan oleh lembaga provinsi dari angka yang disetorkan rumah sakit, klinik, dan pejabat yang mengawasi pemakaman.
Angka 2.212 merupakan tambahan dari 693 kematian yang resmi dicatat sebagai korban COVID-19 di 16 provinsi data didapatkan. Kendati demikian, jumlah penduduk 16 provinsi tersebut sudah merangkum 3/4 populasi di Indonesia.
Anggota senior gugus tugas COVID-19 pemerintah, Wiku Adisasmito, tidak membantah temuan Reuters. Akan tetapi, ia menolak mengomentari jumlah korban virus Corona yang diyakininya memang bisa ditemukan di antara para PDP.
Lebih lanjut, Wiku menyebut sebanyak 19.987 orang diduga terinfeksi virus Corona belum diuji karena antrian panjang spesimen diproses di laboratorium yang kekurangan staf. Sehingga beberapa orang sudah meninggal sebelum sampel mereka dianalisis.
"Jika mereka memiliki ribuan atau ratusan sampel yang perlu mereka uji, mana yang akan mereka prioritaskan? Mereka akan memberikan prioritas kepada orang-orang yang masih hidup," kata Wiku kepada Reuters.
Menurut pedoman COVID-19 terbaru dari Kementerian Kesehatan, pasien PDP adalah pasien dengan penyakit pernapasan akut yang tidak ada penjelasan klinis selain virus Corona. Untuk diklasifikasikan sebagai PDP, pasien juga harus melakukan perjalanan ke suatu negara atau daerah di Indonesia.
"Saya percaya sebagian besar kematian PDP disebabkan oleh COVID-19," kata Pandu Riono, seorang ahli epidemiologi di Universitas Indonesia. Daeng Faqih, ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI), juga telah mendesak pemerintah untuk mengungkap jumlah nasional PDP yang meninggal tetapi belum diuji.
(wk/nere)