IDI Takut Jumlah Dokter Tidak Cukup Tangani Pasien Corona yang Membludak di Indonesia
Getty Images
Nasional

Ketua Umum PB IDI, Daeng M. Faqih, menjelaskan bahwa dokter yang turut bertugas memerangi pandemi corona disebut sebagai dokter penanggung jawab pasien (DPJP) COVID-19, yang terdiri dari sejumlah dokter spesialis.

WowKeren - Kasus virus corona atau COVID-19 di Indonesia terus meningkat setiap harinya. Hingga Senin (27/4) kemarin, jumlah kasus COVID-19 sudah mencapai 9.096 orang dengan 1.151 pasien dinyatakan sembuh dan 756 pasien dilaporkan meninggal.

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) lantas mengungkapkan bahwa tidak semua dokter terlibat dalam penanganan pasien-pasien COVID-19 di Tanah Air. Ketua Umum PB IDI, Daeng M. Faqih, menjelaskan bahwa dokter yang turut bertugas memerangi pandemi corona disebut sebagai dokter penanggung jawab pasien (DPJP) COVID-19, yang terdiri dari sejumlah dokter spesialis.

DPJP COVID-19 di Indonesia sendiri terdiri dari sekitar 2 ribu dokter spesialis paru. Selain itu ada dokter spesialis dalam yang berjumlah kurang dari seribu orang, mereka merupakan dokter Sp.D yang sekaligus konsultan paru dan penyakit tropis infeksi.

Kemudian ada pula dokter anak konsultan paru yang dilibatkan, dan juga dokter spesialis anastesi untuk menangani kasus-kasus di ICU. Saat ini, jumlah dokter anastesi di Indonesia sendiri hanya ada sekitar 2 ribu hingga 6 ribu orang.

"Jadi kalau dijumlah, itu hanya sekitar 6 ribu kekuatan dokter seluruh Indonesia," ungkap Daeng dilansir Kumparan pada Selasa (28/4). "Oleh karena itu, karena pasien semakin banyak, kalau kita mengandalkan dokter DPJP tersebut, maka kemungkinan kalau terus meningkat pasien, kita khawatir jumlah dokter yang menangani tidak akan cukup."


Lebih lanjut, Daeng juga menyebut bahwa dukungan untuk tenaga medis juga harus lebih banyak seiring dengan membludaknya jumlah pasien COVID-19 di Indonesia. Mulai dari kapasitas ruang perawatan hingga jumlah alat pelindung diri (APD), semua harus turut ditambah.

"Terus terang, karena pasien semakin banyak maka memang harus lebih banyak daya dukung untuk kawan-kawan bekerja. Pasti memerlukan support baik itu support ketersediaan ruangan, alat, APD," jelas Daeng. "Itu lama-lama dengan kondisi pasien tambah banyak, maka support itu mestinya lebih dijaga, lebih banyak kapasitasnya mesti ditambah."

Menurut laporan yang diterima oleh IDI, hingga saat ini sudah ada 25 dokter yang meninggal dunia usai tertular COVID-19. Namun, data tersebut tidak diperoleh langsung dari pemerintah dan masih akan diaudit kembali oleh IDI. Diketahui, data tersebut akan dicek kembali dengan cara menelusuri kontak dekat mereka, termasuk rekan kerja sampai pihak keluarga.

Tak hanya itu, Daeng juga mengungkapkan bahwa pemeriksaan tes darah massal akan digelar dalam rentang Mei hingga Juni demi menekan penyebaran virus corona. Daeng sendiri menilai bahwa hal ini dapat menekan jumlah pasien terpapar corona yang memerlukan perawatan rumah sakit.

"Karena kalau semakin banyak pasien terinfeksi dan memerlukan perawatan, maka sekali lagi yang dikhawatirkan adalah melampaui kapasitas rumah sakit kita," pungkas Daeng. "Maka berarti akan ada saudara-saudara kita yang tidak bisa tertampung oleh rumah sakit."

(wk/Bert)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait