Masih Banyak Pelanggar Saat PSBB, Masyarakat Belum Miliki 'Sense of Crisis'?
Getty Images
Nasional
PSBB Corona

Sosiolog Rissalwan Habdy Lubis menilai pemerintah perlu membangun kesadaran masyarakat akan krisis yang sedang terjadi dan pemahaman terkait bahaya virus corona.

WowKeren - Saat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) mulai diterapkan, tak sedikit dari masyarakat yang belum menjalankan protokol kesehatan sesuai dengan yang ditentukan. Menurut sosiolog, hal ini disebabkan karena masih kurangnya pemahaman masyarakat terhadap krisis yang terjadi.

Sosiolog Rissalwan Habdy Lubis membeberkan sikap seseorang yang memiliki kesadaran tinggi. Masyarakat yang memiliki kesadaran tinggi akan berusaha mematuhi protokol kesehatan, misalnya menjaga jarak.


"Bagi orang yang punya kesadaran tinggi dia akan tetap menjalankan protokol menjaga jarak dan akan berjalan terus," kata Rissalwan, Selasa (28/4). "Permasalahan lainnya adalah apakah pengetahuan publik tentang krisis dibangun atau tidak."

Menurutnya, pemerintah perlu membangun kesadaran masyarakat akan krisis yang sedang terjadi. Pemerintah perlu terus menyadarkan mereka terkait bahaya virus corona. Sebab ia melihat sejauh ini pemerintah masih belum bisa mengkomunikasikan secara luas pemahaman akan krisis dan dampak dari pandemi COVID-19 kepada seluruh lapisan masyarakat.

Hal inilah yang menyebabkan tak kunjung adanya perubahan sikap sosial secara masif di masyarakat terutama mereka yang berada di akar rumput. Ia melanjutkan, masyarakat yang memiliki literasi lebih tinggi kemungkinan masih akan melakukan protokol kesehatan sebagai bagian dari gaya hidup misalnya menjaga jarak dan juga memakai masker di tempat umum.

Namun mungkin atau belum bagi masyarakat kebanyakan. Meskipun ada petugas yang mengingatkan untuk terus menjalankan protokol kesehatan namun hal itu tidak akan bertahan lama jika tidak ada pemahaman dari individu masing-masing.

"Orang saat ini belum memiliki sense of crisis (pemahaman krisis)," jelas Rissalwan. "Kalaupun misalnya mereka diperingatkan oleh petugas, mereka akan menuruti saat itu tapi akan kembali melakukannya lagi karena masih tidak paham akan risiko terkena COVID-19."

Sosiolog dari Universitas Nasional (Unas) Jakarta, Sigit Rochadi menilai tidak ada perubahan yang siginifikan terhadap perilaku masyarakat ketika pandemi berakhir. Misalnya interaksi sosial. "Saya kira pola hidup masyarakat akan kembali seperti semula. Interaksi sosial juga akan biasa kembali," ujarnya.

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts