Kisah perjuangan guru asal Jabar, tunjukkan dedikasi sebagai pahlawan tanpa tanda jasa dengan berkeliling ke rumah 45 siswa yang tak bisa belajar selama wabah corona. Seperti apa?
- Ruth Meliana
- Rabu, 13 Mei 2020 - 19:32 WIB
WowKeren - Pemerintah Indonesia telah menerapkan kebijakan pembelajaran jarak jauh (PPJ) bagi seluruh aktivitas pendidikan selama pandemi virus corona (COVID-19). PPJ sendiri bisa dilakukan secara daring (online) melalui layanan video konferensi dan juga melalui siaran di televisi.
Dilansir BBCIndonesia, realita di lapangan menunjukkan jika tidak semua siswa mampu melakukan PPJ. Pasalnya, sebagian siswa tinggal di daerah terpencil yang tidak terjangkau sinyal televisi serta tak memiliki gawai yang diperlukan untuk belajar secara online.
Namun, kisah perjuangan luar biasa ditunjukkan oleh seorang guru asal Jawa Barat. Ujang Setiawan yang merupakan guru kelas 5 Sekolah Dasar Negeri 01 Purbayani, Kecamatan Caringin, Kabupaten Garut.
Wilayah sekolah ini merupakan desa yang berjarak 100 kilometer dari ibu kota Kabupaten Garut, dengan durasi tempuh tiga hingga empat jam. Penduduk di desa ini rata-rata bekerja sebagai petani dan nelayan.
Sebagai guru, Ujang lantas berinisiatif mendatangi rumah murid-muridnya setiap hari dengan menggunakan sepeda motornya selama pandemi berlangsung. Setiap pagi pukul 07.00 WIB, ia mesti berjuang menaiki motor melewati ladang dan hutan demi mencapai rumah siswa-siswa yang dididiknya.
”Secara daring anak-anak nggak mungkin (melakoni PJJ),” cerita Ujang seperti dilansir dari BBCIndonesia, Rabu (13/5). “Ada juga (gawai) yang dipunyai orang tuanya sebagian, tapi kan belum semuanya.”
”Ada informasi pembelajaran bisa dilihat di TVRI, tapi di daerah nggak semuanya bisa masuk channel TVRI-nya,” sambungnya. “Di semester dua ini masih tertunda tiga tema pembelajaran lagi.”
Total ada 45 muridnya, dimana mereka semua tinggal di enam kampung yang berbeda. Ujang lantas mengunjungi mereka secara bergilir dalam satu minggu. Ia membagi enam kampung dalam enam hari, sehingga sehari ia akan berkunjung ke satu kampung.
Ujang juga tetap menekankan pentingnya physical distancing selama mengajar siswa-siswanya. Hal ini sebagai langkah agar kegiatan belajar mengajar yang dilakukannya tetap aman dari ancaman penularan virus corona.
”Saya pembelajarannya tetap jaga jarak. Makanya saya suka di rumah siapa yang kebetulan mencukupi, atau kalau ada rumah kosong atau pun masjid,” jelas Ujang. “Lokasinya seperti itu. Misalkan anak ada lima orang, itu bisa diatur posisinya tidak berdekatan.”
”Saya memberi pemahaman anak tentang wabah ini, tapi waktu pembelajaran minggu pertama, jangankan untuk anak, misalnya masker, untuk saya sendiri tidak tersedia,” sambungnya. “Saya juga mau beli pribadi tidak ada.”
Lebih lanjut Ujang menceritakan jika pada awalnya, ia harus merogoh koceknya sendiri sebagai modal membeli bensin dan fotokopi materi pembelajaran bagi murid-muridnya. Beruntung, akhirnya pihak sekolah mengetahui perjuangannya dalam mengajari siswa-siswa dan memberikan tambahan uang tunjangan.
”Alhamdulillah yang tadinya fotokopi materi, dana operasional, dan sebagainya saya gunakan uang sendiri,” ungkap Ujang. “Sekarang karena mungkin pihak sekolah juga tahu sehingga ada penggantian. Kemudian waktu pas munggahan (hari pertama puasa) saya diberi uang bensin untuk pengganti home visit.”
(wk/lian)