Ternyata Ini Penyebab Banyak PDP Corona Meninggal Sebelum Hasil Tes PCR Keluar
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Beberapa kali PDP Corona dilaporkan meninggal dunia bahkan sebelum hasil tes PCR-nya keluar. Belakangan terungkap penyebab hasil tes PCR ini begitu lama keluar.

WowKeren - Beberapa kali individu dengan status pasien dalam pengawasan (PDP) COVID-19 dikabarkan meninggal dunia sebelum hasil tesnya keluar. Banyak yang menduga hal ini terjadi lantaran sedikitnya kapasitas pemeriksaan sampel di Indonesia.

Namun rupanya faktor ini patut dikesampingkan mengingat Indonesia bahkan bisa memeriksa sampai lebih dari 20 ribu sampel usap lendir tenggorokan setiap harinya. Dan kekinian terungkap alasan lain di balik banyaknya PDP Corona yang meninggal sebelum hasil tes PCR keluar, yakni karena ribetnya birokrasi terkait.


Koordinator Pelaksana Pemeriksaan PCR di Laboratorium Rumah Sakit Universitas Mataram, Mohammad Rizki membeberkan beberapa fasilitas kesehatan mengirimkan sampel ke laboratorium tanpa keterangan atau identitas yang jelas. Alhasil petugas laboratorium pun harus melakukan kerja dua kali, yakni memeriksa sekaligus mengonfirmasi ulang data yang mereka dapatkan ke rumah sakit terkait agar terhindar dari duplikasi data.

Beberapa kali sampel yang datang dituliskan dengan nama berbeda, menyesuaikan dengan nama panggilan misalnya, padahal ternyata merupakan pasien yang sama. "Satu orang itu (padahal) bisa menjalani lebih dari satu kali tes. Jadi mesti kami pastikan lagi ke faskes," tutur Rizki, seperti dilansir dari Majalah Tempo, Rabu (8/7).

Padahal di saat yang sama laboratorium harus membuat laporan hasil pemeriksaan spesimen untuk 4 instansi, yakni Kementerian Kesehatan, Fasilitas Kesehatan, serta ke pemerintah kabupaten/kota dan provinsi. Ditambah dengan sumber daya manusia di laboratorium yang terbatas menyebabkan mekanisme pendataan serta pelaporan ini yang menyebabkan data terlambat keluar.

Kejadian terlambatnya data hasil tes PCR lambat keluar awam terjadi di awal-awal wabah dahulu. Apalagi kala itu pelaporan masih menggunakan cara manual dengan kertas yang dicetak.

Alhasil persoalan data ini kemudian dibenahi oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 dengan membuat integrasi data demi memudahkan. Sehingga kekinian ribetnya perkara birokrasi pelaporan serta pendataan sudah bisa teratasi.

Di sisi lain, hingga hari Rabu (8/7), terdapat 1.853 kasus positif Corona baru yang dilaporkan dalam kurun waktu 24 jam terakhir. Dengan demikian sudah 68.079 pasien positif COVID-19 yang dikonfirmasi.

Terkait sebarannya, Jawa Timur dan DKI Jakarta menjadi penyumbang terbesar dengan masing-masing melaporkan lebih dari 300 kasus. Namun kedua provinsi juga mencatatkan kasus sembuh dengan jumlah yang banyak.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts