Heboh Wacana Redenominasi Rupiah, Ternyata Baru Berjalan Penuh 2035
Nasional

Lewat wacana redenominasi rupiah, nominal Rp 1.000,- akan dipotong menjadi Rp 1,-. Namun wacana yang heboh beberapa waktu belakangan ini ternyata baru bisa dieksekusi secara penuh pada 2035 mendatang.

WowKeren - Belum lama ini wacana redenominasi rupiah alias pemotongan besaran nominal uang kembali mengemuka. Lewat wacana ini, uang senilai seribu rupiah akan setara dengan satu rupiah (Rp 1.000,- = Rp 1,-).

Wacana ini pun tampaknya benar-benar diseriusi dengan Kementerian Keuangan yang sekarang tengah fokus menyusun beberapa perundang-undangan terkait. Sedianya peraturan penyederhanaan nominal rupiah ini ditargetkan selesai pada 2024 mendatang.

Namun yang menarik perhatian, ternyata diperlukan proses yang sangat panjang untuk rencana redenominasi ini benar-benar bisa dieksekusi secara penuh. Memakan waktu sampai sekitar 11 tahun, sedianya redenominasi rupiah baru benar-benar terlaksana penuh pada 2035 mendatang.

"Apabila RUU ditetapkan pada 2024 maka, dibutuhkan waktu sebelas tahun untuk pemberlakuan penuh, tahun 2035," beber Direktur Jenderal Perbendaharaan Kemenkeu, Andin Hadiyanto, Rabu (8/7). Pasalnya dalam menyelesaikan RUU Redenominasi pun harus mempertimbangkan banyak hal termasuk dinamika politik.

Andin pun menjelaskan beberapa tahapan yang harus dilalui sampai uang yang sudah diredenominasi bisa digunakan penuh. Yang pertama adalah tahap persiapan selama 2 tahun. Masyarakat di era ini masih menggunakan nominal rupiah lama.


Kemudian diperlukan waktu lima tahun untuk masa transisi. Masyarakat di era ini sudah mulai menggunakan uang rupiah lama (yang belum diredenominasi) dan rupiah transisi (masih seperti rupiah lama tetapi sudah disederhanakan nominalnya).

"Masa paralelisasi (transisi) kedua atau empat tahun, yaitu menggunakan rupiah transisi dan rupiah baru," terang Andin, seperti dilansir dari Kumparan. "Selanjutnya baru masa implementasi penuh."

Andin sendiri menegaskan redenominasi tak akan berdampak pada daya beli masyarakat karena hanya akan ada penyederhanaan nominal rupiah. Namun Perencana Keuangan, Aidil Akbar, mengungkap daya beli masyarakat bisa cenderung berlebihan di era redenominasi karena ada efek psikologis.

Sebab masyarakat, yang sudah terbiasa dengan bilyet ribuan rupiah, akan menilai nominal yang baru menjadi lebih kecil atau murah. Alhasil keinginan belanja masyarakat juga bisa meningkat dan dapat berdampak buruk terutama bagi golongan masyarakat dengan tabungan rendah.

Namun tetap ada dampak positif dari redenominasi rupiah ini. Seperti disampaikan oleh Direktur Riset Centre of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah, redenominasi bisa menaikkan martabat rupiah.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts