Sempat Tak Dilirik, RI Kini Disebut Sudah 'Amankan' Vaksin Pfizer yang Diklaim 95 Persen Efektif
Nasional
Vaksin COVID-19

Bio Farma sempat mengungkapkan alasan tak 'melirik' vaksin COVID-19 buatan Pfizer AS. Namun sekarang Menko Luhut mengungkap bahwa Bio Farma sudah bekerja sama untuk vaksin itu.

WowKeren - Beberapa waktu lalu vaksin Corona buatan Pfizer, sebuah perusahaan asal Amerika Serikat, mengklaim mampu bekerja hingga 95 persen efektif. Namun kala itu Pfizer masih belum "dilirik" Indonesia karena masalah distribusi.

Namun kekinian sikap itu tampaknya sudah berubah. Sebab Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi (Marives) Luhut Binsar Pandjaitan mengungkap kesediaan Amerika Serikat menyediakan vaksin untuk Indonesia.

Keputusan ini didapat usai Menko Luhut bertolak ke AS beberapa waktu lalu. Kala itu Luhut yang melakukan diskusi bersama Wakil Presiden AS Mike Pence kemudian mencapai kesepakatan AS yang berkenan membantu pengadaan vaksin COVID-19 untuk Tanah Air.

"Wapres Pence dan saya berbicara hampir 15 menit. Kami bicara menyangkut masalah vaksin dan Amerika, presidennya mau membantu vaksin," ungkap Luhut dalam webinar CEO Networking 2020, Selasa (24/11).


Hasil pembicaraannya dengan Pence itu pun sudah ditindaklanjuti. Dan hasilnya ada kesepakatan antara Pfizer dan Bio Farma untuk melakukan kerja sama terkait pengadaan vaksin COVID-19.

"Tadi malam kami sudah follow up lewat video call dengan Secretary of Health dan Wakil Menteri Budi Sadikin, serta BPOM," kata Luhut, dikutip dari Detik Finance. "Jadi untuk Pfizer membuat kerja sama dengan Bio Farma."

Sebelumnya Direktur Utama Bio Farma, Honesti Basyir, mengungkap keraguan perusahaannya untuk bekerja sama dengan Pfizer erat kaitannya dengan syarat distribusi vaksin itu sendiri. Memang vaksin ini bagus karena memiliki efektivitas tinggi namun akan percuma jika dalam proses distribusinya yang kurang optimal hingga menyebabkan vaksin ini berpotensi rusak.

"Kondisi storage-nya (yang diperlukan) itu minus 70 derajat Celcius. Itu Indonesia belum memiliki kemampuan seperti itu," jelas Honesti, Jumat (20/11).

Sehingga karena alasan ini, Indonesia tidak bisa sembarangan memilih kandidat vaksin. Indonesia turut mempertimbangkan kemampuan untuk distribusi setiap kandidat vaksin yang dipilih. "Bahaya sekali kalau vaksin ini tidak disimpan di suhu yang sebenarnya, dia akan rusak sehingga nantinya pada saat diberikan kepada masyarakat ini akan berbahaya," lanjutnya.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts