data risiko penularan corona dari anak-anak masih sangat terbatas. Meski demikian, studi awal menunjukkan jika anak-anak memiliki kemungkinan kecil menularkan virus corona
- Zodiak Yanuarita
- Jumat, 18 Desember 2020 - 14:58 WIB
WowKeren - Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan untuk mewajibkan pendatang memiliki hasil tes PCR atau rapid test antigen sebelum masuk ke Bali. Namun belum lama ini, maskapai Garuda Indonesia memberi pengecualian untuk sejumlah kelompok penumpang.
Mereka tidak wajib menunjukkan hasil tes negatif. Salah satunya adalah penumpang di bawah usia 12 tahun. Pakar biologi molekuler Ahmad Rusdan Handoyo Utomo memberikan penjelasan mengenai hal ini.
Menurutnya, data risiko penularan virus corona dari anak-anak hingga kini masih sangat terbatas. Meski demikian, studi awal menunjukkan jika anak-anak memiliki kemungkinan kecil menularkan virus corona. Sedangkan syarat rapid antigen dimaksudkan untuk mengetahui apakah orang yang bersangkutan berpotensi menularkan COVID-19.
"Kalau logika tes antigen saat bepergian itu kan (dimaksudkan) bukan melihat infeksi," kata Ahmad dilansir Detik, Jumat (18/12). "Tetapi orang ini sedang berpotensi menularkan atau tidak kan gitu masalahnya."
Selama ini memang yang membutuhkan waspada lebih adalah penularan virus corona dari orang tanpa gejala atau OTG. Namun, penularan COVID-19 dari pasien OTG lebih banyak terjadi pada orang dewasa. Seperti studi di Korea Selatan yang menyebut jika usia 17 tahun masuk ke potensi penularan tertinggi.
"Kalau kurang dari itu kayaknya bisa terkena," jelas Ahmad. "Tapi untuk potensi menularkan kayanya kecil memang, tetapi itu baru satu studi."
Sehingga untuk benar-benar memastikan potensi itu maka perlu melakukan tes PCR pada anak-anak. Sedangkan melakukan tes swab PCR pada anak-anak bukanlah hal yang mudah.
"Karena kalau memastikan itu, kita harus melakukan PCR pada anak-anak secara berkala," lanjutnya. "Tapi kan kita tahu untuk melakukan PCR pada anak-anak kan nggak gampang."
Singkat kata, potensi penularan corona pada anak hingga kini masih belum bisa benar-benar dipastikan. Sehingga perlu menunggu lebih banyak studi untuk mencari kebenarannya.
(wk/zodi)