Menurut Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Yudo Margono, temuan dan data awal menunjukkan bahwa tenggelamnya KRI Nanggala-402 bukan disebabkan oleh human error.
- Bertilia Puteri
- Senin, 26 April 2021 - 10:19 WIB
WowKeren - Indonesia tengah berduka atas tragedi tenggelamnya kapal selam KRI Nanggala-402 milik TNI Angkatan Laut di perairan Bali. Sebanyak 53 awak kapal yang diangkut di KRI Nanggala-402 pun telah dipastikan gugur dalam tragedi tersebut.
Adapun kapal selam buatan Jerman tersebut telah berhasil ditemukan di kedalaman 838 meter di bawah permukaan laut. Proses evakuasi pengangkatan kapal pun akan segera dilakukan untuk kepentingan investigasi.
Menurut Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Yudo Margono, temuan dan data awal menunjukkan bahwa tenggelamnya KRI Nanggala-402 bukan disebabkan oleh human error. Ia meyakini tidak ada kesalahan prajurit atau pelanggaran prosedur dalam pelayaran terakhir KRI Nanggala-402, semua telah berjalan sesuai dengan SOP.
"Dari awal saya sampaikan kemarin bahwa kapal ini tidak human error. Bukan human error," tegas Yudo dalam konferensi pers di Bali pada Minggu (25/4). "Karena saat proses menyelam itu sudah melalui prosedur yang betul."
Lebih lanjut, Yudo menjelaskan bahwa pemenuhan prosedur tersebut dapat dilihat dari semua isyarat yang diberikan sebelum KRI Nanggala-402 melakukan penyelaman. Lampu juga disebutnya masih menyala sebelum kapal benar-benar menyelam.
"Saat menyelam juga diketahui lampu masih menyala semua, artinya tidak black out," paparnya. "Saat menyelam langsung hilang."
Penyebab KRI Nanggala-402 hilang kontak hingga akhirnya ditemukan terbelah tiga di kedalaman 838 meter pun akan diinvestigasi lebih jauh. Yudo sendiri menduga tragedi ini disebabkan oleh faktor alam.
"Sebenarnya sudah dievaluasi dari awal," pungkasnya. "Tapi saya punya keyakinan ini bukan human error tapi lebih pada faktor alam."
Di sisi lain, sejumlah asumsi terkait penyebab tenggelamnya KRI Nanggala-402 mulai bermunculan. Salah satunya adalah terlalu banyaknya muatan yang diangkut.
Diketahui ada 53 awak kapal yang bertugas pada Rabu (21/4) kala itu. Terkait asumsi ini, Yudo menjelaskan bahwa kapal selam tersebut mampu mengangkut 50 plus 7 regu Kopaska untuk melaksanakan penyusupan. Dengan demikian, total ada 57 awak beserta alat-alat penyelamatannya yang bisa diangkut oleh KRI Nanggala-402.
(wk/Bert)