Pakar Ungkap 3 Kunci Utama Selesaikan Pandemi COVID-19, Indonesia Ternyata Tak Punya Semua?
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Indonesia tengah dihadapkan dengan lonjakan kasus COVID-19 hingga mencapai belasan ribu kasus baru per hari. Untuk mengendalikannya, Indonesia harus memerhatikan 3 hal berikut.

WowKeren - Wabah COVID-19 bak tengah mengamuk di Indonesia dan menginfeksi sejumlah besar masyarakat sekaligus di beberapa lokasi. Bahkan krisis akibat lonjakan kasus COVID-19 sampai menyebabkan Kementerian Agama berencana membuka kembali asrama haji untuk pusat isolasi mandiri pasien.

Baru-baru ini sejumlah pakar pun menyoroti setidaknya tiga jurus utama agar wabah COVID-19 bisa segera berlalu. Namun tampaknya ketiga hal ini malah tidak, atau mungkin belum, bisa dicapai Indonesia hingga menyebabkan titik akhir pandemi tampaknya masih jauh dari jangkauan.

Yang pertama adalah pengetatan mobilitas warga. Memang pengetatan mobilitas akan berdampak negatif terhadap ekonomi, namun aspek tersebut pun bisa pulih dengan optimal jika sumber daya manusianya, dalam hal ini masyarakat, juga sehat.

Karena itulah sejumlah perhimpunan dokter seperti PDPI, PAPDI, IDAI, PERDATIN, hingga PERKI mengeluarkan lima butir rekomendasi, dengan dua di antaranya terkait pembatasan wilayah. Bahkan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mendesak agar pemerintah menggunakan istilah lockdown saja, meski substansinya masih serupa PPKM Mikro yang notabene kini terus dilakukan.

"Didasari melonjaknya kasus COVID-19 dan rawat inap, saya merasa Indonesia butuh istilah baru sebagai ganti PPKM Mikro. Saya rekomendasikan kata lockdown saja agar monitoringnya lebih tegas dan lebih serius, meski isi konten kebijakannya tidak jauh beda dengan PPKM. Terima kasih," tegas Ketua Satgas COVID-19 IDI, Prof Zubairi Djoerban, Selasa (15/6).


Namun pemerintah tetap bersikeras melakukan PPKM Mikro dengan dalih efektif mengendalikan pandemi COVID-19. Satuan Tugas Penanganan COVID-19 sebelumnya menegaskan bahwa PPKM Mikro dan lockdown memiliki substansi yang sama sehingga tidak perlu dibenturkan.

Lalu aspek tes, lacak, dan isolasi COVID-19 di Indonesia tergolong rendah. Mengutip Kumparan, Indonesia saat ini ada di peringkat ke-159 terendah dalam hal testing COVID-19, sebuah fakta yang turut disoroti ahli pandemi dunia Faheem Younus.

Meski kini tingkat tes sudah meningkat, namun dengan jumlah penduduk mencapai 270 juta tentu masih kurang cepat. Lambatnya tes dan pelacakan tentu akan berdampak terhadap rendahnya tingkat deteksi kasus positif, isolasi pasien, hingga akhirnya berujung pada kematian.

Sedangkan aspek terakhir adalah vaksinasi COVID-19. Juru Bicara Kemenkes untuk Vaksinasi, Siti Nadia Tarmizi, mengungkap target vaksinasi Indonesia mencapai 181,5 juta orang agar mencapai herd immunity.

Namun hingga kini baru 6,6 persen populasi masyarakat yang menerima vaksin, dengan hanya 12 juta orang yang menerima suntikan dua dosis lengkap. Dan di aspek inilah Presiden Joko Widodo berkali-kali menyampaikan ketegasan, yakni meminta Indonesia segera mencapai 1 juta vaksin per hari.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts