Telat Suntik Dosis Kedua Bisa Kurangi Efektivitas Vaksin COVID-19? Ini Kata Kemenkes
Unsplash/Mufid Majnun
Nasional
Vaksin COVID-19

Meski pemerintah berupaya meningkatkan laju vaksinasi, pelaksanaannya mungkin mengalami keterlambatan, termasuk penyuntikan dosis kedua, karena keterbatasan vaksin di beberapa wilayah.

WowKeren - Pemerintah Indonesia masih menggencarkan program vaksinasi COVID-19 untuk membentuk herd immunity di masa pandemi. Berdasarkan rekomendasi WHO, dibutuhkan dua dosis vaksin COVID-19 per orang untuk menciptakan kekebalan tubuh yang optimal.

Rentang waktu penyuntikan dosis pertama dan kedua tergantung masing-masing jenis vaksin yang digunakan. Lantas, apakah terlambat mendapatkan dosis kedua dapat mempengaruhi efektivitas vaksin COVID-19?

Menjawab pertanyaan tersebut, Juru Bicara Vaksinasi Kementerian Kesehatan dr Siti Nadia Tarmizi menjelaskan bahwa keterlambatan suntik dosis kedua tidak akan mengurangi efektivitas vaksin. "Keterlambatan penyuntikan vaksin dosis kedua selama masih dalam interval yang direkomendasikan para ahli, masih aman dan tidak akan mengurangi efektivitas vaksin pertama sehingga antibodi kita masih dapat terbentuk dengan optimal melawan virus COVID-19," papar Nadia dikutip dari situs resmi Kemenkes, Selasa (3/8).

Pemerintah sendiri masih berupaya untuk meningkatkan laju vaksinasi COVID-19. Namun pelaksanaan vaksinasi mungkin mengalami keterlambatan, termasuk penyuntikan dosis kedua, karena keterbatasan vaksin di beberapa wilayah.


Sebagai informasi, pasien COVID-19 yang telah dinyatakan sembuh alias penyintas COVID-19 dapat menerima vaksinasi usai tiga bulan dinyatakan negatif. Sedangkan orang yang telah menerima dosis pertama vaksin lalu dinyatakan positif, dapat melanjutkan dosis keduanya tiga bulan setelah sembuh. Mereka tidak perlu mengulang dari dosis pertama.

Hingga kini, pemerintah telah mendistribusikan 86.253.981 dosis vaksin ke seluruh Indonesia. Sebanyak 67.884.947 dosis di antaranya telah digunakan di 34 provinsi.

Sebelumnya, Nadia sempat menjelaskan sejumlah kendala membuat vaksinasi belum berjalan maksimal. Salah satunya adalah perubahan sejak 1 Juli yang membuat proses vaksinasi COVID-19 tersendat. Keterbatasan jumlah produksi vaksin Sinovac yang dibuat oleh Bio Farma juga menjadi salah satu kendala.

Meski demikian, ia memastikan bahwa pasokan vaksin COVID-19 di Indonesia bisa mencukupi kebutuhan masyarakat. "Jumlah vaksin yang tersedia dan dibutuhkan sebanyak 426 juta dosis, dikirimkan dari produsen secara bertahap sampai dengan Desember 2021," tutur Nadia kepada Tempo, Minggu (1/8).

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts