Adapun potensi terjadinya bencana alam tersebut lebih tepatnya di esa Nampar Macing, Kecamatan Sano Nggoang, Kabupaten Manggarai Barat, NTT. Pemda serta instansi terkait pun akan turun menanggulanginya.
- Tiara Yola Ade Ramadhanti
- Selasa, 22 Maret 2022 - 12:39 WIB
WowKeren - Sejumlah bencana alam hingga saat ini masih mengancam Indonesia. Seperti yang dihadapi oleh ratusan warga di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Sebanyak 200 jiwa dari 62 keluarga (KK), warga Desa Nampar Macing, Kecamatan Sano Nggoang, Kabupaten Manggarai Barat, NTT, disebut tengah terancam bencana alam pergerakan tanah. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Manggarai Barat bahkan menerima keterangan dari warga setempat bahwa pergerakan tanah telah ada sejak tahun 2016, 2018, dan 2021.
Namun pada pergerakan tanah yang terjadi di hari Jumat (18/3) lalu, menjadi ancaman yang dinilai paling parah. Masyarakat pun mengkhawatirkan kondisi tersebut yang dapat berpotensi menjadi bencana.
Sementara itu, berdasarkan laporan visual dari giat kaji cepat yang dilakukan oleh tim BPBD Kabupaten Manggarai Barat, beberapa retakan tanah terpantau mulai dari halaman rumah hingga bagian dalam rumah warga. Tidak hanya itu, beberapa titik retakan juga terlihat di bagian dinding rumah warga dan telah merusak tiang penyangga bagian teras rumah.
"Adanya tanah gembur yang apabila ditekan atau diinjak terasa bergoyang," bunyi laporan dari tim kaji cepat BPBD Kabupaten Manggarai, Selasa (22/3).
Menanggapi hal tersebut, Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Manggarai Barat melalui BPBD Kabupaten Manggarai Barat bersama instansi terkait telah memberikan imbauan kepada warga agar bisa mengantisipasi segala hal yang dapat terjadi terkait ancaman bencana dari fenomena pergerakan tanah.
Hal tersebut disampaikan oleh Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari. Abdul menuturkan bahwa BPBD Kabupaten Manggarai juga telah mendata dan memberikan sosialisasi kepada warga.
"Agar kemudian bersedia direlokasi ke wilayah yang lebih aman dari potensi ancaman bencana," terang Abdul. Menurutnya, tim ahli geologi atau instansi terkait lainnya juga sangat dibutuhkan.
Abdul menuturkan instansi terkait lainnya itu dibutuhkan untuk memastikan kondisi dan risiko dari ancaman atas fenomena pergerakan tanah yang terjadi. Dengan begitu, langkah-langkah pencegahan dan mitigasi bencana dapat segera dilakukan.
(wk/tiar)