Sri Sultan HB X Minta Aksi Klitih Diproses Hukum, Ini Motif Para Pelaku
Twitter/area_jogja
Nasional

Aksi Klitih yang menimbulkan ketakutan warga ikut mendapat perhatian Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X . Lantas, apa sebenarnya yang memicu para remaja melakukan aksi klitih?

WowKeren - Klitih kini kembali menjadi perbincangan usai seorang seorang pelajar SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta dilaporkan tewas disabet gir pada Minggu (3/4) saat mencari makan sahur. Hingga Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X pun ikut buka suara. Ia meminta kasus itu harus diproses secara hukum.

"Satu-satu cara, pelaku harus diproses hukum, karena hanya dengan itu kita bisa mengatasi persoalan. Meski masih di bawah umur, ini kan pidana, korban sampai meninggal, jadi harus diproses hukum," ujar Sri Sultan dikutip dari @humasjogja.

Kasus klitih di Daerah Istimewa Yogyakarta sebelumnya juga sempat menjadi perbincangan di penghujung 2021. Klitih diartikan sebagai aksi kenakalan remaja yang umumnya terjadi di kalangan pelajar.

Klitih dapat berupa pencegatan dan penganiayaan pada korban sesama pelajar guna menunjukkan kekuatan diri. Tapi kini korban aksi klitih jadi semakin acak. Orang yang tak dikenal dan tak punya latar belakang masalah pun bisa jadi korban.

Kriminolog Haniva Hasna, M. Krim menjelaskan mengapa para remaja melakukan klitih dan seolah menjadi kejahatan yang membudaya di tengah masyarakat Yogyakarta. Meski banyak faktor remaja melakukan aksi klitih, tapi penyebab utamanya adalah rasa butuh pengakuan oleh perorangan maupun kelompok, eksistensi, mencari jati diri maupun gengsi.

"Karena mata rantainya tidak terputus sehingga menjadi identitas remaja di Yogyakarta. Klitih menjadi gambaran sukses sebuah kenakalan,” ujar kriminolog itu, Selasa (4/1). melansir Liputan6.com.


Klitih biasanya dilakukan oleh kelompok usia remaja yang secara psikologis sedang mengalami suatu krisis identitas. Ini ditandai dengan adanya perubahan biologis maupun psikologis yang memungkinkan remaja mengalami dua bentuk integrasi.

Timbulnya kejahatan yang dilakukan remaja karena adanya kegagalan untuk mencapai integrasi yang kedua, yakni tercapainya sebuah identitas peran. Oleh karena itu, muncul suatu bentuk ekspresi dari remaja untuk mendapatkan pengakuan atas apa yang dilakukannya

Selain itu, dalam fase mendapatkan pengakuan dan eksistensi, secara psikologis remaja memiliki kontrol diri yang lemah. Remaja yang tidak dapat membedakan perilaku baik dan buruk untuk menemukan jati dirinya ataupun perannya mudah terseret pada perilaku nakal yang akan melahirkan bentuk-bentuk kejahatan.

Lingkungan remaja memiliki pengaruh terkuat bagi mereka untuk menemukan peran maupun jati diri dalam hidupnya. Lingkungan sekolah, lingkungan bermain dengan teman sebaya merupakan tempat yang vital bagi remaja untuk mengekspresikan peran dalam kehidupannya.

Baik dan buruk perilaku remaja dapat dipengaruhi oleh lingkungannya. Remaja yang memiliki kontrol diri lemah tidak dapat menyaring perilaku baik dan buruk untuk menentukan jati diri sekaligus peran serta mendapatkan pengakuan maupun eksistensi di lingkungannya.

“Sayangnya, perilaku-perilaku negatif menjadi salah satu pilihan bagi remaja untuk mendapatkan peran dan eksistensi dalam kehidupannya,” pungkasnya.

(wk/amel)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait