Sempat Disebut Susi Pudjiastuti, Seperti Apa Perbudakan Kasus Benjina?
AP
Nasional
Eksploitasi ABK WNI

Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti sempat menyebut kasus perbudakan Benjina. Seperti apa kisah tersebut? Apakah lebih parah dibandingkan kasus eksploitasi ABK WNI dari kapal Tiongkok?

WowKeren - Sebuah video yang menunjukkan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) terhadap anak buah kapal (ABK) asal Indonesia yang bekerja di kapal milik Tiongkok tengah menjadi topik hangat hingga saat ini. Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti pun turut berkomentar terkait permasalahan tersebut. Namun, ia juga sempat menyinggung soal kasus Benjina.

"Tonton Benjina .. yg begini ratusan sudah terjadi bertahun tahun. Abk Indonesia di perauran Somalia, yg mati kelaparan satu persatu dikapal dilepas pantai. Tidak ada suplai .. cari artikelnya pasti ada," cuit Susi menyinggung soal kasus Benjina.


Dikutip dari Associated Press (AP), ada indikasi terjadi perbudakan terhadap ABK Myanmar pada kapal-kapal yang dioperasikan PT Pusaka Benjina Resources. Ratusan ABK menjadi korban perbudakan. Mereka di antaranya berasal dari Thailand, Laos, Kamboja, Myanmar.

Cuitan Susi

Twitter

Mereka dibawa ke Indonesia melalui Thailand dan dipaksa untuk menangkap ikan, seperti cumi-cumi, udang, kakap, kerapu dan ikan lainnya. Hasil tangkapan mereka kemudian dikirim kembali ke Thailand, memasuki arus perdagangan global.

Laut Arafura menyediakan beberapa tempat penangkapan ikan terkaya dan paling beragam di dunia. Penuh dengan makarel, tuna, cumi-cumi, dan banyak spesies lainnya.

Namun, dalam pelayaran tersebut, salah seorang ABK mengaku diperlukan tidak manusiawi. Dimana mereka dipaksa bekerja 20-22 jam per hari, dikurung, dan disiksa. Menurut para ABK atau para budak, kapten di kapal penangkap ikan memaksa mereka untuk minum air yang tidak bersih.

Hampir semua mengatakan mereka ditendang, dicambuk dengan ekor ikan pari beracun atau dipukuli jika mereka mengeluh atau mencoba beristirahat. Kasus terburuk adalah banyak orang yang menderita cacat hingga kematian di atas kapal tersebut. Mereka juga ada yang dibayar sedikit bahkan tidak ada yang tidak dibayar sama sekali.

Agen perekrut para budak sangat kejam, mereka merekrut anak-anak dan orang cacat. Bahkan rela berbohong tentang upah hingga membius dan menculik migran. Para budak pun mengaku tak tahu ke mana ikan tangkapan mereka dijual. Mereka hanya tahu bahwa itu sangat berharga, mereka tidak diizinkan memakannya.

Tapi berdasarkan penelusuran AP, ikan-ikan itu dapat berakhir di toko-toko kelontong utama Amerika seperti Kroger, Albertsons dan Safeway, Wal Mart, Sysco, Fancy Feast, Meow Mix dan Iams. AS menganggap Thailand sebagai salah satu pemasok utama makanan lautnya, dan membeli sekitar 20 persen dari ekspor tahunan negara itu sebesar 7 miliar dolar AS di industri.

Sementara itu, di dermaga Benjina, banyak budak yang diturunkan dari kapal tanpa bekal hingga akhirnya mereka terlantar di pulau tersebut. Para budak harus makan seadanya dan minum dari air hujan. Mereka juga hidup dalam ketakutan akan penangkapan budak yang disewa.

Tak jauh dari pantai dengan karang tajam, ada sebuah kuburan nelayan. Para budak yang meninggal dimakamkan dengan nama Thailand palsu yang diberikan saat ditipu atau dijual ke pemilik kapal. Kuburan itu menampung lebih dari 60 nisan yang tertutup rerumputan tinggi.

Penanda sederhana kuburan tersebut hanya terbuat dari kayu kecil dan dilabeli dengan rapi. Hanya teman-teman seperjuangan mereka yang mengingat nama orang yang terbaring di sana.

Di masa lalu, para pengawas kapal hanya melemparkan mayat ke laut untuk dimakan oleh hiu. Tetapi kemudian pihak berwenang dan perusahaan-perusahaan mulai menuntut agar setiap orang bertanggung jawab atas daftar orang sekembalinya mereka berlayar. Lalu para kapten mulai menyimpan mayat di samping ikan dalam freezer kapal sampai mereka tiba kembali di Benjina.

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts