Erupsi Gunung Diyakini Sebagai Pertanda Akhir Pandemi, Benarkah?
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Bagi masyarakat Pulau Jawa, aktivitas gunung yang meningkat dalam waktu bersamaan bisa memiliki arti. Ada anggapan gunung meletus sebagai tanda berakhirnya pagebluk

WowKeren - Sejumlah gunung di Indonesia menunjukkan adanya peningkatan aktivitas. Gunung Semeru misalnya, telah mengalami erupsi pada Selasa (1/12) dini hari.

Lalu, Gunung Merapi yang ada perbatasan Jawa Tengah dan DIY juga tengah menjadi perhatian lantaran aktivitasnya yang kian meningkat. Dan rupanya tak hanya di Pulau Jawa, Gunung Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata, NTT, juga erupsi pada Minggu (29/11).

Bagi masyarakat Pulau Jawa, aktivitas gunung yang kian meningkat dalam waktu bersamaan bisa memiliki arti tersendiri. Ada anggapan gunung meletus sebagai tanda berakhirnya pagebluk atau pandemi.

Dosen Sastra Jawa FIB Universitas Gadjah Mada (UGM), Wisma Nugraha Christianto buka suara mengenai hal ini. "Realitas erupsi gunung api, bagi masyarakat Jawa ataupun masyarakat di wilayah yang ada gunung apinya, sudah pasti bersyukur," kata dia dilansir Kumparan, Rabu (2/12).


Alasannya, letusan gunung bisa membuat tanah menjadi lebih subur dan air jernih. Yang mana, kasuburan ini akan membawa kebaikan bagi makhluk hidup di sekitarnya.

Hal inilah yang dimaknai masyarakat Jawa sebagai berakhirnya pagebluk. Pagebluk disini dipahami dalam konteks yang lebih lokal. Misalnya seperti hama yang menyerang tanaman. Adanya gunung yang meletus diibaratkan sebagai awal baru kehidupan.

"Mereka mengalami hidup baru setelah ada gunung 'njeblug atau mbledhos', karena alam dicuci oleh api dan banyu kawah," jelas Kris. "Itu juga berarti luwar saka pagebluk urip, pagebluk penyakit yaitu dalam konteks penyakit lokalitas mereka. (Seperti) penyakit yang menyerang manusia, hewan, serta tanaman."

Terkait apakah erupsi gunung bisa diartikan sebagai pertanda berakhirnya pandemi, menurutnya belum tentu. Ini kembali mengacu pada konteks lokal pagebluk.

"Konteks pagebluk juga lokalitas, tidak selalu seperti halnya pagebluk universal, seperti COVID-19," tuturnya. "Mereka, komunitas gunung dan desa tidak mungkin kena COVID-19, bila tidak ada unsur dari luar masuk ke ruang hidup mereka."

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts