Erupsi Gunung Merapi Sebabkan Puluhan Hektare Lahan Sayur dan Pakan Ternak Rusak
Nasional
Erupsi Gunung Merapi

Puluhan hektare lahan tanaman sayur dan pakan ternak di Dusun Grintingan, Desa Tegalmulyo, Klaten, busuk dan rusak terkena hujan abu vulkanik Gunung Merapi yang terjadi pada Rabu (27/1) kemarin.

WowKeren - Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BBPTKG) melaporkan Gunung Merapi kembali mengeluarkan awan panas pada Kamis (28/1) siang. Awan panas dan guguran lava terpantau di gunung yang memiliki puncak di ketinggian 2.930 mdpl tersebut.

Kepala Badan Geologi Eko Budi Lelono mengatakan jarak aman bagi warga untuk beraktivitas adalah lima kilometer dari puncak Merapi. Sehari sebelumnya, Gunung Merapi juga mengeluarkan awan panas dengan jarak luncuran maksimal 3 kilometer ke arah barat daya, terutama di hulu Kali Boyong dan Kali Krasak.

"Terjadi kejadian abu di beberapa tempat, mengingat material halus erupsi dapat terbawa oleh angin," kata Eko dalam keterangan resmi Badan Geologi, Kamis (28/1). Ia meminta agar warga mewaspadai bahaya lahar saat hujan terjadi di puncak Gunung Merapi.

Akibatnya, puluhan hektare lahan tanaman sayur dan pakan ternak terdampak erupsi Gunung Merapi. Tanaman di lahan tersebut busuk dan rusak terkena hujan abu vulkanik Gunung Merapi.

"Sebenarnya tidak ingin petik awal, tapi kalau yang hijau tidak dipetik khawatir tidak panen," kata petani sayur warga Dusun Grintingan, Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang, Klaten, Widodo. "Ini cabai yang sudah mau merah saja busuk."


Widodo menjelaskan hujan abu terus terjadi beberapa hari terakhir dan yang paling besar terjadi pada Rabu (27/1) kemarin. "Rabu siang abu tebal lalu sore ada hujan air. Malamnya ada abu turun lagi jadi tanaman kena abu lagi," sambungnya.

Satu-satunya cara untuk menyelamatkan tanaman di lahan itu hanya dengan menyemprotkan air. Namun hal itu dinilainya sulit sebab akan membutuhkan sangat banyak air dan hujan abu terus turun.

Cabai keriting hasil petikannya, kata Widodo, hanya laku Rp 15 ribu per kilogram. Padahal harga sebelum ada hujan abu mencapai Rp 20 ribu per kilogram. "Ya bagaimana lagi kalau menunggu merah malah busuk dan tidak bisa panen," ungkapnya.

Kades Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang, Sutarno, mengatakan lahan yang paling terdampak abu adalah lahan sayur dan rumput pakan. Luasan terdampak mencapai sekitar 70 hektare. "Kalau sayur yang terdampak sekitar 70 hektare. Tanamannya ada tomat, cabai, kol dan loncang yang terancam busuk," jelas Sutarno.

Seperti yang telah diketahui, aktivitas vulkanik Gunung Merapi terpantau meningkat sejak Oktober 2020. Penetapan status Gunung Merapi dari level waspada ke Siaga pun diberlakukan pada 5 November 2020.

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts