Berdasarkan simulasi dan pemodelan matematika terhadap data-data kegempaan dalam beberapa tahun terakhir, BMKG memperkirakan ada potensi tsunami setinggi 29 meter di pesisir selatan Jawa Timur.
- Bertilia Puteri
- Jumat, 04 Juni 2021 - 18:28 WIB
WowKeren - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan akan ada megathrust berkekuatan di atas 8 M dan berpotensi memicu tsunami setinggi 29 meter di sejumlah daerah di Jawa Timur. Pemerintah daerah lantas diminta Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian untuk mulai mengembangkan teknologi anti-gempa di daerah yang termasuk dalam zona rawan bencana.
Tito mengakui bahwa terjadinya bencana alam memang tak dapat dicegah. Namun Tito menilai yang dapat dilakukan adalah mengurangi dampak kerusakan, baik materiil maupun korban jiwa.
"Dengan kemajuan teknologi saat ini, tentu kita harus melakukan antisipasi- antisipasi (kebencanaan)," tutur Tito di Kabupaten Banyuwangi pada Jumat (4/6). "Karena potensi megathrust itu dampaknya kan luar biasa."
Lebih lanjut, Tito mendorong pemerintah daerah untuk mulai mengembangkan teknologi anti-gempa di berbagai bangunan. Tito mencontohkan bahwa teknologi serupa telah mulai dipasang di Sumatera Barat.
"Saya pikir, ini pemerintah daerah sudah harus mensosialisasikan pembangunan-pembangunan berbasis antigempa. Seperti di Sumatera Barat juga sudah dilakukan," papar Tito. "Jadi setiap bangunan yang ada sudah mulai dipikirkan antigempa. Sehingga tidak hancur, ketika sewaktu- waktu bencana datang."
Terkait potensi tsunami 29 meter di Jawa Timur, Tito meminta Pemda untuk kembali menggalakkan penanaman hutan bakau atau mangrove di pesisir. Hal tersebut dinilai dapat menjadi benteng alami tsunami.
"Untuk wilayah rawan tsunami, ini perlu diantisipasi. Mulai dari upaya pencegahannya. Dilakukan sosialisasi penananaman mangrove mulai sekarang," jelas Tito. "Mangrove ini tidak hanya sebagai benteng alami, tapi juga bisa memberi dampak ekonomi kepada masyarakat. Karena mangrove menjadi tempat pembibitan ikan."
Selain penanaman mangrove, Tito juga menyarankan pemasangan alat deteksi dini tsunami. Dengan alat tersebut, warga di sekitar pesisir dapat cepat mendapat informasi mengenai potensi gelombang tsunami. Meski demikian, Tito mengimbau masyarakat untuk tidak panik soal potensi tsunami tersebut.
"Waspada harus, tapi enggak perlu panik. Indonesia memang ditakdirkan berada pada ring of fire dan lempengan-lempengan," pungkas mantan Kapolri tersebut. "Sehingga bencana merupakan bagian dari kita sejak ribuan tahun yang lalu. nenek moyang kita juga menghadapi hal yang sama."
(wk/Bert)