Ketiga video tersebut akan dijual Bamsoet sebagai NFT di marketplace OpenSea. Rencana, masing-masing video akan dijual dengan harga 4 Ethereum. Adapun 1 Ethereum sendiri saat ini senilai USD 2.840 atau setara Rp 40,8 juta.
- Bertilia Puteri
- Sabtu, 05 Februari 2022 - 15:27 WIB
WowKeren - Ketua MPR RI Bambang Soesatyo alias Bamsoet akan ikut meramaikan pasar Non-Fungible Token (NFT). Bamsoet akan menjual tiga video kecelakaannya bersama Sean Gelael pada saat ekshibisi dalam Kejurnas Meikarta Sprint Rally 2021 pada 27 November 2021 lalu.
Ketiga video tersebut akan dijual Bamsoet sebagai NFT di marketplace OpenSea. Rencana, masing-masing video akan dijual dengan harga 4 Ethereum. Adapun 1 Ethereum sendiri saat ini senilai USD 2.840 atau setara Rp 40,8 juta.
"Seluruh hasil penjualannya, baik yang didapat dari penjualan perdana maupun dari royalti setiap kali video tersebut nantinya diperjualbelikan kembali oleh para pihak lainnya, akan saya sumbangkan untuk pembangunan masjid," tutur Bamsoet usai berbincang dengan Advisor to SE Asian Web3 and NFT Project, Ihsan Fadhlur Rahman, dalam podcast Ngobrol Santai (Ngobras), Sabtu (5/2). "Bagaimana dan kapan kepastian penjualan perdananya dimulai, tunggu tanggal mainnya."
Menurut Bamsoet, dirinya ikut meramaikan pasar NFT bukan hanya untuk menggalang donasi pembagunan masjid saja. Namun juga untuk mendorong generasi muda agar aktif memanfaatkan kemajuan teknologi informasi yang menunjang sektor ekonomi digital.
Apalagi perkembangan NFT di dunia disebut makin meningkat. Ia menilai berbagai pihak, mulai dari generasi junior hingga senior, harus bisa beradaptasi agar tak ketinggalan zaman atau tergilas roda ekonomi digital.
Sementara itu, Bamsoet juga sempat mengatakan bahwa Metaverse tahun ini diperkirakan akan semakin hadir dalam kehidupan manusia. Hal ini diperkirakan akan mengubah peradaban dunia.
Bamsoet mencontohkan Menteri Luar Negeri Barbados, Jerome Walcott, yang kabarnya mengumumkan akan membuka kantor kedutaan besar di jagat Metaverse. Oleh sebab itu, Bamsoet meminta Indonesia untuk tak ketinggalan dalam menyongsong peradaban baru tersebut.
"Koordinasi di tingkat global sangat diperlukan oleh berbagai negara dunia dalam mengantisipasi efek samping terhadap ekonomi digital tersebut," tuturnya. "Agar jangan sampai kemajuan teknologi digital tersebut dimanfaatkan untuk pencucian uang (money laundry), ataupun digunakan untuk money game dengan skema ponzi."
(wk/Bert)