Fenomena semburan lumpur panas muncul usai terjadi gempa di Sumatera Barat. BNBP pun memberikan penjelasan mengenai fenomena semburan lumpur panas tersebut.
- Amelia Nur Fatimah
- Sabtu, 26 Februari 2022 - 09:41 WIB
WowKeren - Jumat (25/2) kemarin, terjadi gempa berkekuatan 6,1 Magnitudo di wilayah Pasaman Barat, Sumatera Barat. Usai gempa, muncul fenomena semburan lumpur panas dari dalam tanah di Bonjol, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat (Sumbar).
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto pun menjelaskan fenomena semburan lumpur panas tersebut. Suharyanto menyebut fenomena itu dikenal dengan istilah likuefaksi tanah.
Fenomena likuefaksi terjadi ketika tanah yang jenuh kehilangan kekuatan dan kekakuan akibat adanya tegangan. Sehingga, tanah yang padat itu berubah wujud menjadi cairan atau air berat.
"Di setiap gempa dengan episenter di darat biasa diikuti dengan fenomena longsor, likuifaksi dan gerakan tanah," ujar Suharyanto pada Jumat (25/2) kemarin, melansir Cnnindonesia.com.
Suharyanto menjelaskan bahwa likuefaksi tidak hanya terjadi dalam skala besar seperti di Palu tahun 2018 lalu. Tetapi juga dalam skala kecil. Ia menyebut fenomena itu juga bisa muncul ketika terjadi keringnya air sumur dan naiknya pasir.
"Berubahnya tanah jadi lumpur karena terdorongnya air tanah saat gempa bercampur dengan tanah permukaan atau bisa disebut sand boiling," sambung Suharyanto.
Ia berharap fenomena likuefaksi di Pasaman Barat tidak terjadi di lokasi lain. Selain itu, ia juga berharap kejadian itu hanya sementara. "Kita harapkan apa yang diberitakan di atas sifatnya hanya lokal dan sementara," ungkapnya.
Sebelumnya diketahui ada viral video meluapnya air panas dari dalam tanah. Video itu menunjukkan muncul mata air bercampur lumpur warna cokelat muda menyembur dan mengalir terus. Kejadian itu disebut terjadi setelah gempa di Pasaman Barat.
6 orang dikabarkan meninggal dunia akibat gempa Sumbar tersebut. Selain itu ribuan rumah juga diperkirakan rusak hingga warga harus mengungsi.
Diketahui bahwa BMKG juga mencatat sudah terjadi 15 kali gempa susulan setelah gempa dengan magnitudo 6,1 di timur laut wilayah Pasaman Barat, Sumbar. Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Bambang Setiyo Prayitno mengatakan bahwa magnitudo gempa susulan paling besar adalah 4,2.
(wk/amel)