Sebuah ogoh-ogoh di Bali dibuat dengan tema pandemi COVID-19 menggunakan bahan arang hingga masker. Ogoh-ogoh tersebut dibuat jelang peringatan Hari Suci Nyepi.
- Amelia Nur Fatimah
- Selasa, 01 Maret 2022 - 14:03 WIB
WowKeren - Umat Hindu bakal memperingati Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1944 pada Kamis (3/3) mendatang. Pawai ogoh-ogoh jadi salah satu rangkaian acara dalam perayaan tersebut.
Kelompok Pemuda ST Tunas Muda, Banjar Dukuh Mertajati, Desa Pakraman Sidakarya, Kecamatan Denpasar Selatan, Bali pun membuat ogoh-ogoh yang cukup menarik. Mereka membuat sebuah ogoh-ogoh bertema Pandemi COVID-19 yang diberi judul Gerubuk.
Ogoh-ogoh dengan tinggi sekitar 4,5 meter dengan warna hitam gelap itu, dipajang di halaman Banjar Dukuh Mertajati. Gerubuk sendiri diartikan sebagai kekacauan dalam situasi Pandemi COVID-19.
"Judulnya adalah Gerubuk (yang artinya) situasi kacau," kata Pageh Wedhanta (23), selaku arsitektur ogoh-ogoh tersebut pada Senin (28/2).
Pageh menjelaskan bahwa konsep ogoh-ogoh tersebut diambil dari keresahan dan kegelisahan menghadapi Pandemi. Hal itu digambarkan lewat empat tangan ogoh-ogoh yang membawa alat dan mempresentasikan empat sektor yang lumpuh akibat Pandemi COVID-19.
"Jadi Ogoh-ogoh ini, kami buat sebuah figur dalam beberapa tangan tambahan yang masing-masing membawa alat sebagai perwakilan dari sektor-sektor yang lumpuh pada masa pandemi. Di antaranya, ada alat genta atau bajra sebagai perwakilan dari sektor kegiatan keagamaan, ada alat pancing sebagai sektor laut, ada cangkul sebagai sektor pertanian, dan ada suntikan sebagai kesehatan dan ada lontar sebagai sektor pendidikan," jelasnya.
"Jadi, di ogoh-ogoh ini ada rantai, kami gambarkan sebagai terbelenggunya, terbatasnya pergerakan kami pada saat pandemi ini," sambungnya.
Menariknya lagi, ogoh-ogoh tersebut rupanya juga dibuat dengan bahan ramah lingkungan. Bahan-bahahannya antara lain ranting kayu, bambu, koran bekas, sekam, arang dan masker.
"Kami menggunakan arang sebagai gambaran bahwa pada masa pandemi ini, semua sektor-sektor kehidupan bisa dibilang hampir terbakar hangus dengan nuansa gelap sebagai simbol duka. Kemudian, ada masker dan masker ini kami angkat sebagai edukasi bagaimana kita lihat kalau dari sisi positifnya masker ini pada saat ini bisa mencegah penularan virus itu sendiri. Tapi, kalau kita lihat dari sisi negatifnya masker ini justru menimbulkan masalah baru terhadap lingkungan seperti limbah masker yang susah untuk terurai," ungkap Pageh.
"Untuk masker ini sendiri konsep dari awal kami mencoba menggunakan dari bekas. Cuman, karena minim sekali pengetahuan kami bagaimana mengelola masker bekas ke bersih. Jadi, untuk sementara kami menggunakan masker baru," pungkasnya.
(wk/amel)