Harga Keekonomian BBM Setara Pertamax Rp 14 Ribu per Liter, Pertamina Bakal Naikkan Tarif?
Unsplash/Visual Karsa
Nasional

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menjelaskan bahwa harga BBM jenis umum ditetapkan badan usaha namun tidak boleh melebihi batas atas yang ditetapkan yaitu Rp 14.526 per liter untuk Maret 2022.

WowKeren - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan bahwa batas atas harga BBM RON 92 atau setara Pertamax mencapai Rp 14.526 per liter. Harga tersebut adalah cerminan dari harga keekonomian BBM berdasarkan formula harga dasar perhitungan harga jual eceran jenis BBM umum.

"Untuk harga BBM jenis umum memang ditetapkan badan usaha, yang penting tidak boleh melebihi batas atas yang ditetapkan yaitu Rp 14.526 per liter untuk Maret 2022," tutur Kepala Biro Komunikasi Layanan Informasi Publik dan Kerjasama Kementerian ESDM, Agung Pribadi, Senin (21/3).

Menurut Agung, harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) bulan Februari 2022 mencapai USD 95,72 per barel. Sedangkan ICP bulan Maret 2022 mencapai USD 114,77 per barel.

"Tingginya harga minyak tidak hanya berdampak pada APBN, tetapi harga penyediaan BBM," jelasnya. "Untuk melindungi masyarakat, BBM bersubsidi seperti misalnya Solar, minyak tanah, dan BBM yang paling banyak dikonsumsi masyarakat seperti Pertalite harganya tetap dijaga."

Lantas, apakah tingginya harga minyak mentah akan meningkatkan harga BBM non-subsidi seperti Pertamax? PT Pertamina (Persero) rupanya masih melakukan kajian atau review terkait harga Pertamax.


Menurut Pjs Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga, Irto Ginting, harga jual Pertamax saat ini memang masih jauh dibandingkan harga keekonomian. Diketahui, Pertamina saat ini menjual BBM Pertamax seharga Rp 9.000 per liter.

"Dibandingkan dengan harga keekonomian memang ada gap besar. Kami masih me-review dan juga berkoordinasi dengan stakeholder," ungkap Irto.

Di sisi lain, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, menyebutkan bahwa harga BBM non-subsidi seharusnya mengikuti harga pasar. Mengingat BBM non-subsidi digunakan oleh kalangan mampu dengan daya beli kuat sehingga kenaikan harganya tidak terlalu masalah.

"Penaikan harga BBM non-subsidi juga tidak akan mengganggu indikator ekonomi makro," tuturnya.

Faisal menilai bahwa proporsi penggunaan BBM non-subsidi tidak besar. BBM Pertalite memiliki penggunaan yang lebih banyak meski tidak termasuk dalam BBM Penugasan.

"Inflasi BBM itu dipengaruhi terutama dari konsumsi Pertalite yang penggunaan lebih banyak dan mempengaruhi juga ke harga lain terutama sembako. Kalau Pertamax beda. Distribusi barang kan tidak pakai BBM Pertamax," tukasnya.

(wk/Bert)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait