Menurut pedagang daging sapi di Pasar Warung Buncit, Jakarta Selatan, penularan penyakit mulut dan kuku (PMK) bahkan membuat tempat jagal terpaksa ditutup dan mengganggu pasokan daging sapi.
- Bertilia Puteri
- Jumat, 03 Juni 2022 - 13:57 WIB
WowKeren - Penyebaran penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak membuat pedagang daging sapi kesulitan. Menurut pedagang daging sapi di Pasar Warung Buncit, Jakarta Selatan, PMK bahkan membuat tempat jagal terpaksa ditutup.
"Kalau sekarang stok lagi kacau gara-gara ada PMK, tempat jagalnya ada yang ditutup," ungkap salah satu pedagang bernama Iyus kepada CNN Indonesia, Jumat (3/6).
Pasokan yang terganggu membuat Iyus menjual daging sapi seharga Rp 140 ribu per kilogram. Harga itu terbilang tinggi karena daging sapi biasanya dijual seharga Rp 125 ribu hingga Rp 130 ribu per kilogram.
Selain mengganggu pasokan, virus PMK juga membuat penjualannya menurun hingga 30 persen karena pembeli takut mengkonsumsi daging sapi. Padahal Iyus mengaku biasanya dapat menjual 30 kilogram daging sehari.
Hal senada juga disampaikan oleh pedagang lain bernama Rudi. Menurutnya, stok daging terganggu karena virus PMK dan penjualannya menurun 50 persen.
"Berpengaruh pada penjualan sampai 50 persen, biasanya sehari habis 40 kilogram," paparnya.
Sementara itu, para pedagang di Pasar Inpres Pasar Minggu, Jakarta Selatan, juga mengalami gangguan stok daging sapi imbas PMK. Daging sapi di pasar tersebut juga dijual seharga Rp 140 ribu per kilogram.
"Iya gara-gara virus pasokan agak susah. Sekarang itu cukup berpengaruh pada penjualan omzet bisa berkurang 50 persen biasanya habis 15 kg sampai 20 kg per hari," jelas seorang pedagang daging sapi bernama Opik.
Di sisi lain, Asosiasi Peternak Sapi Perah Indonesia (APSPI) khawatir terjadi depopulasi hewan ternak karena virus PMK tersebut. Mengingat banyak hewan yang mati akibat penyakit tersebut.
"Prediksi saya, akan terjadi depopulasi hingga 30 persen-40 persen sapi perah dalam empat bulan ke depan," jelas Ketua APSPI Agus Warsito, Jumat.
Produksi susu sapi juga disebut mengalami penurunan. Produksi susu koperasi-koperasi di Jawa Timur bahkan mengalami penurunan sampai 40 persen.
"Sudah turun sampai 40 persen dari normal produksi. Kalau produksi turun tanpa terjadi depopulasi, maka penurunan ini akan terjadi secara sementara dan akan meningkat kembali meskipun tidak akan kembali normal," paparnya. "Tetapi jika terjadi depopulasi, maka penurunan produksi ini akan terjadi secara permanen."
(wk/Bert)