Sebelumnya, KLHK memberikan penghargaan Green Leadership Nirwasita Tantra 2021 kepada Ganjar di kantor KLHK. Namun hal ini rupanya justru membuat Ganjar menerima kritikan dari warga Jateng.
- Tiara Yola Ade Ramadhanti
- Kamis, 21 Juli 2022 - 20:13 WIB
WowKeren - Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo diketahui mendapatkan penghargaan lingkungan hidup. Akan tetapi, penghargaan ini justru mendapat kritikan dari warga Jateng.
Warga Jateng, khususnya mereka yang lingkungannya rusak atau terancam rusak, ramai-ramai menyatakan keberatan penghargaan yang diberikan kepada Ganjar tersebut. Hal ini dikarenakan menurut mereka Ganjar justru merupakan sosok yang merusak lingkungan.
Adapun keberatan itu salah satunya disampaikan oleh warga Kabupaten Rembang yang diketahui identitasnya sebagai Suharno. Suharno menyatakan bahwa Ganjar tidak pantas menerima penghargaan tersebut.
Suharno bahkan menyebut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tidak cermat atau malah memang menutup mata dalam melihat rekam jejak kebijakan lingkungan yang dibuat oleh Ganjar selama menjadi pemimpin Jateng. Ia lantas menyebutkan salah satu kebijakan Ganjar yang dinilai merusak lingkungan yakni menerbitkan izin baru untuk pabrik semen di Kendeng, Kabupaten Rembang, usai Mahkamah Agung (MA) mencabut izin lingkungan pabrik tersebut.
Suharno pun menegaskan bahwa kebijakan tersebut jelas tidak mencerminkan penghargaan yang diterima Ganjar. Hal ini disampaikan Suharno dalam diskusi daring bertajuk "Konferensi Pers Rakyat Jateng-Penetapan Ganjar Sebagai Gubernur Perusak Lingkungan" yang digelar LBH Semarang secara daring pada Kamis (21/7).
"Saya rasa penghargaan itu malah semacam pesanan untuk memperbaiki citra Ganjar," ujar Suharno. "Jadi kami masyarakat yang selama ini memperjuangkan lingkungan merasa kecewa berat terhadap KLHK memberikan penghargaan ke Gubernur Jateng Ganjar Pranowo."
Kemudian warga lain yang juga menyampaikan keberatannya adalah warga Wadas bernama Feri Hidayah. Feri keberatan atas penghargaan yang diberikan kepada Ganjar itu lantaran telah memberikan izin penambangan quarry di Wadas, meski sudah ditolak warga.
Menurut Feri, apabila penambangan di Wadas dimulai, maka akan membuat lingkungan rusak. Selain itu, wilayah pesisir juga akan mengalami banjir lantaran lokasi serapan air sudah hilang akibat penambangan. "Bagi kami, Ganjar belum tepat mendapat penghargaan lingkungan," ungkapnya.
Selanjutnya, warga Demak yang diketahui identitasnya sebagai Masnuah juga mengaku khawatir dampak lingkungan yang akan muncul akibat proyek pembangunan tol Semarang-Demak di bawah kepemimpinan Ganjar. Menurutnya, proyek ini akan semakin memperparah penurunan muka tanah di Demak, dan semakin banyak warga yang terdampak.
(wk/tiar)