Ketua PBNU Bidang Keagamaan KH Ahmad Fahrur Rozi meminta masyarakat dan umat Islam untuk lebih jeli sehingga bisa membedakan dukun dan kiai. Ia menegaskan bahwa dukun berbeda dari kiai.
- Bertilia Puteri
- Selasa, 02 Agustus 2022 - 13:55 WIB
WowKeren - Nama praktisi ilmu supranatural Gus Samsudin belakangan ramai diperbincangkan. Padepokan Nur Dzat Sejati di Blitar milik Gus Samsudin didemo dan dituntut untuk ditutup oleh warga karena dinilai telah melakukan penipuan berdalih pengobatan.
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) lantas turut angkat bicara terkait kehebohan Gus Samsudin. Ketua PBNU Bidang Keagamaan KH Ahmad Fahrur Rozi menyayangkan perbuatan Gus Samsudin yang menggunakan trik sulap dalam praktiknya.
Fahrur meminta masyarakat dan umat Islam untuk lebih jeli sehingga bisa membedakan dukun dan kiai. Ia menegaskan bahwa dukun berbeda dari kiai. Dukun disebutnya menggunakan trik, sedangkan kiai memiliki karomah atau kemuliaan.
"Kita harus selektif. Kita kan kadang dukun dikiaikan, itu salah. Jangan kiaikan dukun. Masyarakat mesti ditekankan bahwa kalau karomah itu tidak diobral-obral. Karomah itu diberikan kepada wali, kekasih Allah, tidak untuk jualan, tidak untuk komersil atau konten. (Kalau dukun) itu tipuan, sihir, atau sulap," papar Fahrur dilansir NU Online, Senin (1/8).
Masyarakat mungkin ada yang menganggap bahwa Gus Samsudin seperti iai ahli hikmah yang memiliki keilmuan menyembuhkan berbagai penyakit. Namun Fahrur memastikan bahwa praktik Gus Samsudin sangat berbeda dengan sikap kiai ahli hikmah.
"Kita percaya memang doa-doa itu sangat bermanfaat. Tapi kalau yang sifatnya konten-konten, pamer-pamer, itu jelas sulapan. Karena tidak mungkin kiai seperti itu. Kiai itu justru sembunyi. Kiai nggak mau mempertontonkan yang seperti itu, takut riya," jelasnya
Gus Samsudin dikabarkan kerap meminta tarif pengobatan yang tidak sedikit kepada pasiennya. Hal itu berbeda dari sikap kiai yang senang menolong orang lain dengan ikhlas tanpa imbalan.
"Itu jelas demi konten lah. Orang enggak bisa ngaji pakai sorban, pakai jubah, itu kan jelas kontennya. Kita harus hati-hati," tegasnya. "Kalau dia kiai, ngajar di pesantren, shalat 5 waktu, hajinya bagus, itu doanya manjur percaya kita, karena ibadahnya tertib. Tapi kalau orang itu enggak salat, enggak ibadah, trus kerjanya cuma ngonten, jangan dipercaya."
Lebih lanjut, Fahrur berpesan kepada masyarakat agar tak mudah melabeli suatu penyakit dengan sebutan non-medis. Ia mengatakan bahwa semua penyakit merupakan urusan medis, namun terkadang dukun-dukun menyebutnya sebagai penyakit non-medis.
(wk/Bert)