KCI Minta Maaf dan Akui Petugas Teledor Buntut Video Penumpang Difabel Ditolak Naik KRL di Solo
Unsplash/CDC
Nasional

PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) menyampaikan permintaan maaf atas sikap petugas KRL tersebut. KCI menyampaikan permintaan maaf itu kala bertemu dengan Tim Advokasi Difabel (TAD) Kota Solo.

WowKeren - Video yang menunjukkan petugas KRL menolak penumpang difabel cerebral palsy di Stasiun Balapan Solo, Jawa Tengah, sempat viral di media sosial. Kala itu petugas meminta penumpang tersebut untuk mengganti kursi roda tiga yang dipakainya karena ukurannya dinilai terlalu panjang.

Kekinian, PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) menyampaikan permintaan maaf atas sikap petugas KRL tersebut. KCI menyampaikan permintaan maaf itu kala bertemu dengan Tim Advokasi Difabel (TAD) Kota Solo.

"Kepada para disabilitas, atas peristiwa yang sempat viral kemarin, tentu bila ada kekurangan, ketidaksempurnaan dari kami, kami sampaikan permohonan maaf," tutur Senior Manager Area 6 Yogyakarta PT KCI Adli Hakim Nasution, Selasa (2/8).

Selain itu, Adli juga mengakui adanya keteledoran dan kesalahan petugasnya. Adli menyatakan pihaknya akan meningkatkan pemahaman petugas di lapangan dalam melayani para pengguna KRL.


"Kami ingin belajar meningkatkan pelayanan dan meningkatkan pemahaman petugas agar lebih sensitif. Nanti ada pelatihan-pelatihan lagi untuk meningkatkan sensivitas petugas," paparnya.

Sementara itu, TAD Kota Solo meminta penyelenggara transportasi publik untuk memahami ragam disabilitas dan alat bantunya. Penyandang disabilitas sendiri juga diminta memahami aturan di setiap moda transportasi untuk lebih menyesuaikan diri.

"Kami minta harus ada pelatihan secara berkala kepada petugas karena mereka garda terdepan pelayanan, sehingga label ramah difabel bukan hanya kata-kata indah," kata Ketua Harian TAD Solo, Sri Sudarti.

Sebelumnya, aksi petugas KRL tersebut mendapat kritikan keras dari perhimpunan difabel Kota Solo. Slamet Widodo selaku perwakilan difabel daksa mengungkapkan bahwa penumpang tersebut sebelumnya sudah bisa melakukan perjalanan KRL dari Yogyakarta ke Solo. Namun sang penumpang justru ditolak kala hendak kembali ke Yogyakarta.

"Mungkin perlu pemahaman menyeluruh pada tiap person dari pihak KRL. Mungkin secara infrastruktur sudah aksesibel, namun untuk personal pegawai perlu adanya pemahaman. Bagaimana cara berkomunikasi, bagaimana cara memberi pertolongan pada komunitas kami," tukas Slamet.

(wk/Bert)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait