IAKMI Bongkar Tingkat Kematian Nakes Akibat Corona, RI Masuk 10 Besar Di Dunia
AFP/Paolo Miranda
Nasional
COVID-19 di Indonesia

IAKMI dan IDI menyoroti tingginya tingkat kematian tenaga kesehatan di Tanah Air akibat terinfeksi virus corona (COVID-19). Terungkap, ini peringkat Indonesia di dunia.

WowKeren - Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) menyoroti tingkat kematian tenaga kesehatan (nakes) di Indonesia yang terinfeksi virus corona (COVID-19). IAKMI turut membongkar peringkat Indonesia di dunia terkait presentase kematian nakes.

Ketua terpilih IAKMI, Dedi Supratman mengungkapkan jika Indonesia menduduki peringkat ketiga di dunia sebagai negara dengan tingkat kematian nakes tertinggi. Berdasarkan data dari Pandemic Talks, presentase kematian nakes akibat virus corona di Tanah Air tercatat sebesar 2,4 persen dari total 89 kematian hingga 13 Juli 2020 lalu.

Dari perhitungan per 13 Juli tersebut, peringkat Indonesia berada di bawah Rusia dan Mesir. Rusia di posisi pertama mencatatkan presentase kematian akibat COVID-19 hingga 4,7 persen dan disusul Mesir sebesar 2,8 persen.

”Jika kita lihat angka absolut memang angka kematian nakes di Indonesia tidak sebanyak yang di luar negeri,” ujar Dedi seperti dilansir dari CNNIndonesia, Senin (3/8). “Tapi jika kita bandingkan dengan angka kematian total suatu negara dan kita ambil persentasenya, maka angka (tingkat) kematian Indonesia sangat tinggi.”

Meski demikian, Dedi menjelaskan jika pada kenyataannya angka kematian nakes di Indonesia tidak setinggi data Pandemic Talks. Ia mengatakan Indonesia hanya masuk 10 besar dunia terkait tingkat kematian nakes tertinggi.


Adapun rinciannya Indonesia menempati posisi ke-9 dengan 89 kematian nakes per 13 Juli lalu. Indonesia berturut-turut berada di bawah Rusia (545 kematian), Inggris (540 kematian), Amerika Serikat (507 kematian), Brazil (351 kematian), Mexico (248 kematian), Italia (188 kematian), Mesir (111 kematian), dan Iran (91 kematian).

Melihat data itu, Dedi mendesak pemerintah untuk melibatkan organisasi-organisasi profesi kesehatan untuk menangani tingginya angka kematian nakes di Indonesia. Selain itu, ia juga menyarankan agar diberlakukan penerapan jam kerja untuk pelayanan, kunjungan pasien, maupun konsultasi sehingga nakes dapat memiliki waktu istirahat cukup.

”Kami pimpinan profesi dan asosiasi kesehatan bisa dilibatkan,” saran Dedi. “Sehingga hal-hal semacam ini bisa intensif kita bicarakan dengan Satgas/pemerintah, sehingga bisa lebih cepat dalam pengambilan kebijakan ke depan.”

Sementara itu, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) memberikan apresiasi kepada pemerintah yang terus berupaya untuk mengkampayekan protokol kesehatan COVID-19. Meski demikian, IDI mendesak pemerintah agar fokus dalam upaya pencegahan korban meninggal.

”Yang sekarang dilakukan pemerintah kan pencegahan testing, ada satu yang dilupakan, indikator penanganan COVID-19 kan selain mencegah infeksi kedua adalah mencegah kematian,” ujar Wakil Ketua Umum IDI Slamet Budiarto. “Nah pemerintah harus concern mencegah kematian baik tenaga kesehatan maupun masyarakat.”

(wk/lian)

You can share this post!

Related Posts