Sinovac Sudah Masuk Uji Coba, Bagaimana Pengembangan Vaksin Merah Putih?
Nasional
Vaksin COVID-19

Disebut Merah Putih karena vaksin ini sengaja dikembangkan dengan mengacu kepada karakteristik virus corona yang berkembang atau yang beredar di Indonesia

WowKeren - Vaksin menjadi barang yang sangat dibutuhkan di tengah pandemi seperti sekarang ini. Indonesia pun menjalin kerja sama dengan negara lain untuk memproduksi vaksin guna menekan penularan virus.

Namun selain menjalin kerja sama dengan pihak asing, Indonesia juga tengah berupaya mengembangkan vaksin sendiri. Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman, Amin Soebandrio mengungkapkan saat ini pengembangan vaksin Merah Putih telah mencapai 40 persen. Kandidat vaksin ini mulai dikembangkan pada April lalu.

"Kami mulai mengembangkan itu sejak bulan April," kata Amin dilansir Sindo Media, Jumat (14/8). "Selang bulan Mei kami mendapatkan mandat untuk mengembangkannya dan kami hanya diberi waktu 1 tahun untuk bisa mengembangkan bibit vaksinnya."

Tahun depan, diharapkan bibit vaksin ini sudah bisa diserahkan ke industri untuk dilakukan uji klinis. "Dan bibit vaksinnya akan diserahkan ke industri untuk dilakukan uji klinik seperti yang kemarin disuntikkan oleh bapak Presiden itu uji klinik vaksin dari luar negeri," ujarnya.


Pemberian nama Merah Putih ini juga bukan tanpa alasan. Amin menjelaskan, bahwa vaksin ini sengaja dikembangkan dengan mengacu kepada virus yang berkembang atau yang beredar di Indonesia. Sebab, diyakini jika karakteristik virus corona yang menyebar tidak sama antara tempat satu dengan lainnya.

"Vaksin merah putih itu kita harus kenali dulu kenapa kita sebut sebagai vaksin merah putih, karena ini dikembangkan dengan mengacu kepada virus yang berkembang atau yang beredar di Indonesia," lanjut Amin. "Kemudian ini dilakukan di laboratorium di Indonesia oleh para peneliti Indonesia untuk orang-orang Indonesia."

Sementara itu, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) juga sedang mengembangkan vaksin berbasis protein rekombinan. Vaksin ini rencananya akan dipergunakan sebagai vaksin sekunder atau 'booster' untuk mencegah penularan COVID-19.

Saat ini tim peneliti sedang memasukkan vektor atau protein yang telah didesain itu ke sel mamalia. Harapannya, protein ini bisa memicu produksi protein rekombinan yang diperlukan untuk pembuatan vaksin.

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts