MUI Sayangkan Kerumunan Saat Pandemi: Kerja Keras 10 Bulan Hancur dalam Sepekan
Twitter/DPPFPI_ID
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Sejak pandemi ini menyebar pada Maret lalu, pemerintah telah menginstruksikan agar sejumlah aktivitas dilakukan dari dalam rumah termasuk kegiatan belajar mengajar

WowKeren - Mejelis Ulama Indonesia turut menyayangkan masih banyaknya kerumunan massa. Apa yang terjadi itu sangat bertolak belakang dengan usaha yang selama ini dilakukan masyarakat untuk menahan diri menerapkan prokes selama 10 bulan terakhir.

"Kita sangat menyesalkan," kata Wasekjen MUI Nadjamuddin Ramly dalam keterangannya, Senin (23/11). "Kerja keras sepuluh bulan dihancurkan oleh kegiatan-kegiatan kerumunan dalam satu pekan terakhir."

Seperti diketahui, sejak pandemi ini menyebar pada Maret lalu, pemerintah telah menginstruksikan agar aktivitas yang tidak memiliki urgensi tinggi bisa dilakukan dari dalam rumah. Bahkan kegiatan belajar mengajar pun harus dilakukan secara daring sampai sekarang hingga menuai berbagai keluhan.

Lebih lanjut, ia mengatakan jika MUI berkomitmen untuk mendukung dan meminta Satgas mengedepankan aksi penyelamatan jiwa manusia. "Umat Islam tahu betul, untuk dan atas nama penyelamatan jiwa manusia, yang wajib pun bisa diringankan," tuturnya.


Ia kemudian menjelaskan jika beberapa ibadah bisa dilakukan tanpa harus meninggalkan rumah jika kondisinya masih pandemi seperti sekarang ini. Misalnya untuk salat Jumat maupun Idul Fitri yang bisa dilakukan di rumah. Begitu juga dengan penerapan shaf salat. MUI pun sudah mengeluarkan fatwa-fatwa terkait situasi pandemi.

"Itu semua atas nama dan demi penyelamatan manusia," lanjutnya. "Dalilnya pun jelas, baik dalil naqli maupun dalil aqli. Baik yang bersumber dari Al-Quran dan hadits maupun pemikiran ulama."

Hal senada disampaikan oleh Ketua Satgas COVID-19 PBNU, M Makky Zamzami. Ia berharap agar Satgas dan semua pemangku kepentingan melakukan antisipasi libur akhir tahun 2020 dengan mengutamakan penerapan protokol kesehatan.

"Bila perlu, disesuaikan dengan kearifan lokal. Pesan-pesan protokol kesehatan, lebih baik jika dibuat berbeda antara satu bulan dan bulan yang lain," ujar Makky. "Bentuk, cara, dan strateginya berbeda, tetapi tujuannya sama.

Adapun kerumunan yang cukup menuai sorotan akhir-akhir ini adalah berkaitan dengan massa simpatisan Rizieq Shihab. Kerumunan ini membuat resah lantaran dikhawatirkan bisa memicu klaster penularan COVID-19.

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts