Sejumlah RS di Surabaya Kelabakan Karena Stok Plasma Konvalesen Kosong
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Meningkatnya angka pasien COVID-19 membuat sejumlah RS di Surabaya kelabakan karena stok plasma konvalesen yang kosong. Salah satu RS yang mengalami persoalan ini adalah RS Husada Utama (RSHU) Surabaya.

WowKeren - Plasma konvalesen saat ini tengah menjadi salah satu cara yang dilakukan oleh tim medis untuk merawat pasien positif COVID-19 di rumah sakit. Namun, banyaknya pasien membuat beberapa RS di Surabaya kelabakan karena stok plasma konvalesen kosong.

Salah satunya di RS Husada Utama (RSHU) Surabaya. Saat ini stok plasma konvalesen kosong. Hal ini dikatakan Dirut RSHU dr Didi D Dewanto SpOG. "Plasma konvalesen, kadang saat kita minta ke PMI, stok lagi kosong," katanya dilansir Detikcom, Selasa (26/1).

Meski begitu, terkadang stok plasma konvalesen juga ada. Hal tersebut tergantung dari pendonor penyintas COVID-19, maupun persediaan dari PMI. "Kalau per hari kira-kira bisa membutuhkan 10 bag atau kantong untuk 5 pasien. Karena rata-rata tiap pasien butuh 2 kantong," jelasnya.


Ia pun meminta agar para penyintas COVID-19 agar bersedia mendonorkan plasma konvalesennya. Sebab, hal tersebut bisa membantu pasien yang dirawat di RS.

Sementara di RS Royal Surabaya stok plasma konvalesen masih terpenuhi. Pihaknya juga selalu mengajukan permintaan plasma konvalesen ke PMI Surabaya. "Saat ini stok plasma konvalesen kami masih terpenuhi," ujar Jubir COVID-19 RS Royal dr Dewa Nyoman Sutanaya.?

Per harinya, RS Royal hanya membutuhkan untuk satu pasien. Hingga sejauh ini juga tidak mengalami kekosongan stok darah plasma konvalesen. Kondisi yang sama juga dialami RSI Jemursari. Stok darah plasma konvalesen justru banyak. "Terpenuhi, banyak dan tersedia," kata Wakil Direktur Layanan Medis dan Keperawatan RSI Jemursari, dr Dyah Yuniati SpS.

Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Timur (Jatim) Emil Elistianto Dardak telah memperingatkan adanya kenaikan 3 kali lipat kasus COVID-19 sejak November hingga Januari 2021. "Sejak 19 November 2021, kasus agregat se-Jatim yang kisaran 3 ratusan itu tiba-tiba naik hingga menjelang akhir tahun naik kisaran 8 ratusan. Hingga saat ini angka penambahannya sembilan ratus hingga seribu kasus," ujarnya, Senin (25/1).

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts