Sejumlah santri Ponpes Shiddiqiyyah mengundurkan diri pasca penangkapan MSAT terkait kasus pencabulan. Sementara di sisi lain, Kemenag diminta mengevaluasi kurikulum ponpes tersebut.
- Amelia Nur Fatimah
- Rabu, 13 Juli 2022 - 18:53 WIB
WowKeren - Kasus pencabulan hingga peristiwa penjemputan paksa MSAT alias Bechi berdampak signifikan pada kondisi Pondok Pesantren Majma'al Bahrain Shiddiqiyyah Ploso, Jombang. Seperti diketahui, MSAT yang merupakan tersangka pelaku pencabulan sejumlah santriwati merupakan anak kiai pemilik pondok pesantren tersebut.
Sebelumnya, izin operasional Ponpes Shiddiqiyyah juga sempat akan dicabut meski akhirnya dibatalkan. Kini, sebagian santri memilih untuk keluar dari pesantren.
Setidaknya ada 21 santri yang memutuskan keluar dari pesantren. "Ada 21 santri yang mengundurkan diri," ungkap Kabid Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kanwil Kemenag Jatim, Mohammad As'adul Anam, di Kantor Kemenag Jatim, Rabu (13/7).
As'adul mengungkap keputusan mundur dari pesantren itu merupakan kewenangan santri dan orangtua wali mereka. Ia pun turut memaklumi keputusan tersebut melihat kondisi pesantren di pemberitaan saat ini.
"Santri yang ditarik orang tuanya atau menarik diri, ini jadi kewenangan mereka. Bagaimana pun kejadian itu sangat berpengaruh pada kondisi psikologi santri di sana. Kemudian kalau orang tua dan santri menarik diri itu kewenangan mereka," ungkap As'adul, melansir CNNIndonesia.com.
Kemenag Jatim ke depannya mengaku akan tetap membantu para santri tersebut dika memang dibutuhkan. Memberi fasilitas untuk pindak ke pondok pesantren lain usai keluar dari Ponpes Shiddiqiyyah salah satunya.
"Mereka sekali lagi kalau minta difasilitasi di kabupaten mana kami fasilitasi," pungkas As'adul.
Sementara itu di lain pihak, Kementerian Agama (Kemenag) diminta untuk mengevaluasi kembali kurikulum pendidikan serta nilai-nilai sosial yang diajarkan di Ponpes Shiddiqiyyah, Jombang. Hal itu disampaikan Wakil Ketua DPR RI Muhaimin Iskandar alias Cak Imin.
"Tim Kemenag harus segera turun ke Pesantren Sihiddiqiyyah Jombang dan memastikan semua harus berubah lebih baik, mengevaluasi kurikulum dan isi pelajaran dan nilai2 sosial yg diterapkan pesantren, selain memastikan hak2 santri, juga aturan yg tegas agar tidak terulang lagi kasus," pungkas Cak Imin dalam salah satu cuitan di Twitter miliknya,@cakimiNOW, Selasa (12/7).
(wk/amel)