Pemadaman listrik dilaporkan terjadi di ibu kota provinsi Guangdong, Guangzhou, yang mencatat suhu maksimum di atas 37 derajat Celsius selama satu minggu penuh.
- Bertilia Puteri
- Selasa, 26 Juli 2022 - 20:13 WIB
WowKeren - Gelombang panas yang berlangsung lama di Tiongkok telah mendorong penggunaan listrik mencapai tingkat rekor. Akibatnya, terjadi pemadaman listrik di beberapa daerah di saat suhu tinggi diperkirakan masih akan berlangsung setidaknya selama satu minggu lagi.
Menurut China Southern Power Grid Company, penggunaan listrik pada hari Senin (25/7) telah melampaui beban puncak tahun lalu sebesar 3 persen. Jaringan listrik provinsi Guangdong juga mencapai rekor tertinggi, yang mencapai 142m kilowatt dan meningkat 4,89 persen dari beban puncak tahun lalu.
Pemadaman listrik dilaporkan terjadi di ibu kota provinsi Guangdong, Guangzhou, yang mencatat suhu maksimum di atas 37 derajat Celsius selama satu minggu penuh. Manajer kantor pengiriman China Southern Power Grid Company, Yang Lin, menjelaskan bahwa begitu suhu di Guangzhou melampaui 35 derajat Celsius, maka setiap derajat tambahan berarti peningkatan beban yang sesuai sebesar 3m-5m kilowatt.
Perusahaan tersebut mengatakan tengah memeriksa peralatan untuk menghindari panas berlebih dan kerusakan, dan berjanji untuk menjaga pasokan listrik. Dalam beberapa tahun terakhir telah terjadi pemadaman listrik yang meluas yang disebabkan oleh suhu ekstrim, meningkatnya permintaan listrik dan kekurangan batu bara. Hal tersebut telah menyebabkan kekacauan di seluruh Tiongkok.
Di sisi lain, suhu panas Tiongkok juga membuat bisnis es di Shanghai melonjak. Pabrik pembuat es di Shanghai, Perusahaan Es Yuhu, mengatakan bahwa bisnis pada tahun 2022 adalah dua kali lipat dari tahun-tahun normal.
"Tahun ini cuacanya cukup panas dan suhunya tinggi. Bagi kami, bagi perusahaan kami, ini membuat perbedaan besar," ungkap Ye Xiangxiang selaku manajer pabrik tersebut.
Ye Xiangxiang dan pekerja pabriknya mengeluarkan keringat saat mereka mengangkat balok es seberat 40 kilogram ke truk pada hari-hari ketika Shanghai mengeluarkan "peringatan oranye" untuk suhu di atas 37 derajat Celsius. "Itu tak pernah berhenti. Para pekerja hanya bisa istirahat beberapa jam setiap hari," katanya.
Lebih lanjut, Ye Xiangxiang mengungkapkan bahwa pemerintah daerah dan kecamatan Shanghai turut menjadi pelanggan barunya. Beberapa sudah mulai menyediakan balok es untuk membuat para sukarelawan lebih nyaman selama pengujian COVID-19 massal reguler di kota itu.
Relawan di lokasi pengujian, yang mengenakan alat pelindung kepala hingga ujung kaki, mengalami kondisi yang sangat tidak nyaman. Meski perusahaan Tuan Ye diuntungkan dari cuaca yang lebih panas, dia sangat prihatin dengan masalah global yang lebih luas.
"Dunia yang semakin hangat bukanlah situasi yang baik karena kita perlu menggunakan lebih banyak pendingin dan lebih banyak energi dan sains memberitahu kita bahwa ini menciptakan situasi yang tidak normal," tukasnya.
Lebih dari 300 kota di Tiongkok diperkirakan mencapai suhu di atas 35 derajat Celsius pada Selasa (26/7).
(wk/Bert)