Amien Rais Harap Parpol Oposisi Tak Bermanuver ke Pemerintah Demi Satu Kursi 'Ecek-Ecek'
Nasional

Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais menilai bahwa pada dasarnya rekonsiliasi berbicara mengenai arah bangsa dan negara ke depannya.

WowKeren - Rekonsiliasi yang dilakukan oleh Joko Widodo dan Prabowo Subianto mendapat respons positif dari banyak pihak. Meskipun ada juga pendukung Prabowo yang tidak sepakat dengan langkah ini.

Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais ikut memberikan tanggapannya terkait rekonsiliasi. Menurutnya, rekonsiliasi harusnya berbicara mengenai kesepakatan untuk membangun negara. "Saya bilang kalau mau rekonsiliasi tentukan dulu platformnya, mau diapakan Indonesia ini?" kata Amien di Jakarta Pusat, Sabtu (20/7).


Ia kemudian menyinggung pandangan Prabowo dalam membangun Indonesia ke depannya. Prabowo menilai bahwa kedaulatan pangan, energi, dan lain-lainnya yang menyangkut hajat hidup orang banyak adalah faktor penting dalam pembangunan Indonesia.

"Prabowo sudah bicara di mana-mana pentingnya kedaulatan pangan, energi, tanah, air dan lain-lain," lanjut Amien. "Kalau itu disepakati, misalnya disepakati, ayo bagi 55-45, itu masuk akal. Kalau sampai disepakati berarti rezim ini balik kanan, sudah jalan akalnya."

Menurutnya, jika gagasan Prabowo tersebut bisa direalisasikan, maka Indonesia bisa berkembang menjadi negara yang kuat. Namun, ia pesimistis akan hal ini. "Tapi ini kan nggak mungkin. Kalau mungkin alhamdulillah, negeri ini bisa kokoh sekali karena ide Prabowo akan dilaksanakan," imbuh mantan Ketua Umum PAN tersebut.

Oleh sebab itu, penting agar para Parpol oposisi tetap berada di jalur mereka tanpa harus menyeberang ke jajaran koalisi pemerintahan. Ia menyayangkan jika ada parpol oposisi yang selama Pilpres mendukung gagasan Prabowo justru pada akhirnya menyeberang ke pemerintah demi satu kursi di pemerintahan.

"Tapi kalau tidak mau, ya sudah kita di luar, oposisi," ujar Amien. "Sungguh aib kalau ada partai pendukung 02, tiba-tiba menyeberang hanya karena satu kursi ecek-ecek."

Sebelumnya, Ketum PAN Zulkifli Hasan mengatakan bahwa istilah oposisi kurang tepat diterapkan di Indonesia. "Kita itu negara Pancasila, oposisi dan tidak itu tidak tepat. Bisa saja di pusat kita tidak bersama atau bersama, tapi di daerah berbeda," kata Zulhas, Kamis (18/7).

You can share this post!

Related Posts
Loading...